• Kamis , 12 Desember 2019

CHEMISTRY SOUND ENDAH N RHESA

KEHADIRAN DUO ENDAH N RHESA, PADA PERTENGAHAN TAHUN 2000AN, SEPERTI MEMBERI CATATAN TERSENDIRI DI PANGGUNG MUSIK INDONESIA.
   

Dimana pada saat itu, lagi trend dan menjamur Pop Band, duo ini justru hadir dengan menawarkan konsep musik minimalis dengan basic akustik. Tapi hal fresh di industri musik inilah, yang membuat duo ini bisa bertahan hingga saat ini. Bertemu saat bergabung dalam sebuah groub band Rock, dan kemudian keduanya memilih untuk hengkang dari group-nya tersebut, karena merasa beda visi. Endah Widiastuti, kemudian memilih ber-solo karier dengan merilis mini album “The New Beginning” (2004) yang di produseri oleh Rhesa Aditya. Chemistry keduanya memang sudah terjalin, karena mereka sudah berpacaran sejak lama. Chemistry inilah yang akhirnya menjadi trigger untuk membentuk konsep duo.

“Awalnya kami ragu dengan konsep musik yang akan kami tampilkan, karena memang konsep full band yang lebih banyak muncul. Tapi kami mencoba menawarkan di beberapa café konsep akustik duo kami dengan nama Endah N Rhesa. Dan ternyata, ada sebuah café yang menerima konsep kami, padahal pada awal sampai pertengahan 2000-an café kebanyakan mencari konsep full band. Hal ini juga yang meyakinkan kami untuk serius dengan konsep duo kami.” Ungkap Endah saat di kunjungi AudioPro di Earhouse Café, di wilayah Pamulang Tangerang Selatan. Sedangkan menurut Rhesa, konsep musik yang mereka tampilkan tidak tanpa pertimbangan, tapi melalui riset. “Karena saya basic-nya seorang IT, sebelum yakin dengan duo yang kami bentuk, saya melakukan riset terlebih dahulu. Saya cari tahu musik apa yang di gemari dan musik apa yang belum pernah muncul di sini.” Tambahnya Awalnya duo ini memang belum yakin untuk berani membuat album, dan kebanyakan mereka tampil dengan me-cover lagu-lagu yang memang sudah dekat dengan mereka selama ini, dari lagu ballad, rock, blues hingga jazz. “Respon audiens ternyata cukup bagus. Dari hal tersebutlah, yang awalnya saya ingin konsen pada solo, setelah berdiskusi dengan Rhesa, akhirnya kami sepakat membuat duo. Kami akhirnya membuat konsep instrument bass, gitar dan vocal di musik kami, untuk bisa saling menunjang.” Tambah Endah.

Pertimbangan lain adalah, menurut mereka berkaca pada band yang pernah mereka gabung sebelumnya, tidak mudah menyatukan banyak kepala dalam satu band. Lebih lanjut Rhesa menjelaskan, “Karena saya sudah pernah menjadi produser album Endah, kami sudah lama bersama dan saling memahami, maka kami yakin dengan konsep berdua. Di sisi lain dengan menggarap berdua, kerja kami bisa lebih efisien, termasuk efisien waktu dan dana tentunya.”

CHEMISTRY SOUND

Tentunya bukanlah hal yang mudah untuk menampilkan aransement musik yang full dari kedua personil ini, mereka membutuhkan instrument khusus untuk bisa mengaplikasikan konsep duo tersebut. “Selain vocal, saya menjaga rhythm, jadi saya butuh akustik gitar dengan sound yang lebar, dan untuk itu saya membutuhkan gitar dengan body yang juga lebar.” Ungkap Endah, yang akhirnya pas dengan produk Cole Clark asal Australia tipe (Grand Auditorium) AN1 Angel1 Series. Menurut Endah, sound body dari gitar tersebut terasa cukup maksimal “Cukup bisa mengimbangi permainan bass Rhesa. Apalagi jika digunakan untuk live, gitar Cole Clark yang saya gunakan mampu menghasilkan sound yang sudah cukup memenuhi kebuthan saya, tanpa di dukung berbagai produk effect.” Endah juga menegaskan Cole Clark tipe AN1 Angel1 Series, menurutnya memang merupakan gitar terbaik untuk live. Sedangkan Rhesa membutuhkan sound bass dengan tone yang baik, untuk mengimbangi permainan Endah. “Apalagi saya juga kadang harus nge-lead. Tidak hanya di butuhkan karakter sound yang lebar, dengan tone yang baik dan low yang maksimal, tapi juga playability yang menunjang. Saya cocok dengan bass dari brand Fodera untuk kebutuhan tersebut. Apalagi saya juga membutuhkan sound yang fleksibel, dari vintage ke modern.” Jelas Rhesa

SOUND YANG LEBIH LEBAR

Perpaduan vocal dan kedua sound isntrumen yang mereka gunakan inilah yang menjadikan chemistry di aransement musik mereka. Yang menurut mereka bisa saling mengisi untuk membuat karakter lagu terasa lebih lebar di panggung, walaupun cuma tampil berdua. Akan tetapi Endah N Rhesa tidak ingin melakukan pengulangan-pengulangan. Selain pilihan instrument yang digunakan yang terus berkembang, juga konsep musik yang di sajikan. Menurut Rhesa, Selain berbagi range (tinggi rendahnya nada) dan variasi rythm yang bergantian, Cara Memadukan Gitar dan bass di Endah N Rhesa masih terus berkembang dan tidak ada formula pasti. “Kami cenderung mengimitasi beat (pada drum atau perkusi ) atau nuansa harmoni yg umumnya di pakai untuk orchestra atau paduan suara.”

Artikel By : Andree Stroo
Photo By : Fajar Sutrisno

         

Mau tau ARTIKEL LENGKAP cerita Endah N Rhesa dengan Audiopro,  segera download Majalah Audiopro Edisi 20 di Gramedia Digital (klik DISINIatau beli langsung di toko buku Gramedia terdekat ya Apro Reader’s! Jangan lupa follow semua sosial media Majalah Audiopro untuk mendapatkan up-date informasi tentang musik dan audio lainnya.

Related Posts