• Kamis , 17 Oktober 2019

STEINBERG DAY 2019 BERSAMA CHANDRACOMM DAN YAMAHA DI SAE

STEINBERG MERUPAKAN SALAH SATU PERUSAHAAN TERBESAR PENGEMBANG SOFTWARE RECORDING. SEJAK BERDIRI 35 TAHUN LALU, PERUSAHAAN ASAL JERMAN INI MEMBAWA PENGARUH BESAR TERHADAP INDUSTRY REKAMAN DI DUNIA.

Di Indonesia sendiri, nama Steinberg sudah tisak asing karena banyak digunakan oleh para penggiat audio dan video di tanah air. Terutama dua software digital audio worksation mereka, yaitu Cubase dan Nuendo.

Berselang satu tahun setelah rilisnya Cubase versi 9.5 dan Nuendo 8.1, pada November 2018 lalu Steinberg memperkenalkan major update untuk Cubase 10 disusul dengan Nuendo 10 pada 20 Maret 2019. Untuk itu, pada 25 Mei 2019 kemarin Chandracom berkerja sama dengan Yamaha Musik Indonesia serta SAE Institute mengadakan Steinberg Day 2019 dengan pembicara Agus Hardiman dari Art Sonica serta Levi Santoso yang keduanya memiliki Certified Trainer dari Steinberg di SAE Institute Jakarta yang terletak di bilangan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pada sesi pertama, workshop yang dimulai pada jam 4 sore ini di buka oleh Agus Hardiman yang memperkenalkan Cubase Pro 10. Seperti seri sebelumya, Steinberg mengeluarkan 3 versi yaitu Pro, Artist serta Elements dengan beberapa perbedaan fitur di antara ketiganya.

 

Agus Hardiman menjelaskan beberapa fitur terbaru dari Cubase 10 Pro. Ada Vari Audio 3 untuk mengubah persepsi pitch monophonic vokal yang telah direkam dengan mengedit level pitch secara mikro serta mengoreksi timing dan intonasi note secara natural.

Dengan audio engine yang telah disempurnakan guna mendukung 32 bit dan 64 bit floating-point audio, di semua versi Cubase 10, secara visual ada perubahan pada channel strip berupa matering element untuk setiap modul berupa visual feedback yang berguna pada saat mixing process.

 

Acara dilanjutkan bersama Levi Santoso yang memperkenalkan Nuendo 10. Memang secara indetik, Cubase dan Nuendo memiliki feel visual yang sama. Tapi perbedaannya adalah Cubase untuk music production, sementara Nuendo untuk video post production. Untuk itulah Nuendo menjadi DAW favorit bagi para sound design untuk audio effect video, games dan lainnya.

Di sesi ini, pertama Levi menjelaskan fitur Video Cut Detection untuk user agar dapat memilih section video yang di impor dan menganalisanya untuk potongan dari satu kamera atau scene satu dengan yang lain. Selanjutnya Levi menjelaskan beberapa plugins terbaru yang ada di Nuendo 10 seperti Voice Designer yang dapat me-wrap karakter suara menjadi lebih warm, fuzzy, cold, robotic ataupun lebih nightmare.

ARTIKEL LENGKAP, silahkan download Majalah Audiopro Edisi 18 di Gramedia Digital (klik DISINIatau beli langsung di toko buku Gramedia terdekat ya Apro Reader’s! Jangan lupa, follow semua sosial media Majalah Audiopro untuk informasi tentang musik dan audio lainnya.

Artikel By : Ressa S.M
Photo By : Ressa S.M

Related Posts