• Selasa , 17 September 2019

MASSAGE BASS DAN GITAR ALA OM IJAL

KATA “MASSAGE” SEPERTINYA LEBIH FAMILIAR KITA DENGAR SEBAGAI METODE PENYEMBUHAN ATAU TERAPI KESEHATAN TRADISIONAL UNTUK TUBUH. NAMUN TIDAK BAGI OM IJAL, IA MENGAPLIKASIKAN METODE TERSEBUT UNTUK INSTRUMENT MUSIK KHUSUSNYA BASS DAN GITAR.

“Prinsip kerja Saya adalah massage, ya layaknya pijat di badan, yang di pegang itu semuanya. Badan aja kalu habis pijat langsung fresh. Apalagi bass sama gitar, setelah pijat pastinya langsung enak dimainini.” Ujar pria yang akrab di sapa Om Ijal ini.

Seiring berjalannya waktu dan pemakaian, beberapa part dari logam akan mengalami oksidasi dan karat. Selain mengurangi estetika tampilan, karat juga menyebabkan rusaknya part tersebut. Untuk itu, pria yang bernama Rizal ini menawarkan massage berupa pembersihan karat-karat yang menempel di bridge, tuning peg, dan trusrod. Wiring kabel dan shielding untuk elektronikpun jga turut dikerjakan dan di tata olehnya.

“Bass atau gitar yang datang kesini Saya cek semua. Begitu masuk harus di bongkar abis sampai body dan neck terbuka. Selanjutnya baru di bersihkan terus rangkai lagi pelan-pelan. Jadi prosesnya ada cleaning, wearing, setup, sampai shielding semua jadi satu paket massage.” Tambah pria berkacamata ini.

Karena memiliki customer yang notabenenya hanya memiliki waktu di malam hari, workshop yang berada di Pesona Khayangan Mungil 1 Blok J-35 Depok ini mempunyai waktu buka yang berbeda pada umumnya. “Saya tidak bisa ngikutin waktu office hour, banyak customer yang pekerja kantoran yang pulangnya diatas jam 7 malam. Mau service hanya punya waktu malam, kalau weekend mereka punya acara. Lalu anak-anak ngamen. Kalau pagi mereka belum bangun, mereka biasanya berangkat sore, atau kesini pulang tengah malam setelah ngamen.” Papar Om Ijal yang juga pemain bass band Aaarghhh bergenre death metal ini.

DARI TOKO ONLINE KE WORKSHOP

Berawal dari membuka toko online yang menjual aksesoris seperti senar, tuner, dan strap. Pria kelahiran Balikpapan 32 Januari 1975 ini juga aktif di Komunitas seperti Bass lab, IBP (Indonesia Bass Player), dan IBF (Indonesia Bass Family). Selain berjualan, dari Komunitas itulah Ia melihat peluang untuk membuka service bass dan gitar. Berawal dengan cara service door to door dan hanya bermodal keberanian, Ia mulai promosikan hasil kerjanya di social media.

“Jujur, pada awal buka Saya tidak punya alat. Cuma modal obeng dan tang, solderan aja di kasih Albert DTR, multitesterdi kasih Marwan, Jadi waktu pas pertama buka dan dapat uang hasil service pertama dari Ricky Kasarung langsung saya belikan tools. Dan Orang yang pertama kali mengajarkan service dan mendorong seperti ini Mas Dogy Revolt. Terus Marwan juga, dia itu khusus barang-barang butik. Lalu Ande Bass Boi Garage.” Kenang Om Ijal.

RESTORASI BASS DAN GITAR

Selain untuk di mainkan, bass dan gitar merupakan instrument musik yang memiliki nilai hostoris bagi pemiliknya. seiring waktu, instrument tersebut mengalami kerusakan atau penurunan kualitas. Kebanyakan bass dan gitar yang datang ke Om Ijal hanya body dan neck saja dengan keadaan mengenaskan. Semua hardware dan part sudah tidak ada lagi. Hal itulah yang menjadi tantangan saat merestorasi, selain mencari kelangkaan part original, juga harus memiliki tim yang benar-benar mengerti untuk subsitusi beberapa bagian yang terbuat dari kayu.

” ada nyerempet ke bikin ada nyerempet ke pabrikan, tapi tidak membangun seperti luthier. Misalnya ada bagian kayu yang belah, nah bagian yang terbelah itu yang Saya buat baru. Di sambung aja, karena prinsipnya tetap mempertahankan keorisinilannya.” Jelas pria yang juga punya hobi elektrikal ini.

 

 

ARTIKEL LENGKAP, silahkan download Majalah Audiopro Edisi 17 di Gramedia Digital (klik DISINIatau beli langsung di toko buku Gramedia terdekat ya Apro Reader’s! Jangan lupa follow semua sosial media Majalah Audiopro untuk informasi tentang musik dan audio lainnya.

Artikel By : Ressa S.M
Photo By : Ressa S.M

Related Posts