• Kamis , 18 Juli 2019

YOSE KRISTIAN DRUMMER KAYA KARYA

BERMAIN MUSIK ITU BEBAS, BEBAS BERIMPROVISASI SELAMA TAK LARI DARI ESENSI SEBUAH LAGU!

Arahan awal musisi senior Iwan Fals itu sampai saat ini tetap menjadi kuncian Yose Kristian ketika bermain musik bersama Iwan Fals band, ” Sebagai frame, kalau lagu lama yalagu yang direkam dalam kaset atau CD. Namun saat bermusik, khususnya live kita bebas berekspresi selama tak keluar dari jalur atau benang merahnya yakni penghayatan, ” ujar Yose saat ditanya tentang atmosfer bermusik dengan musisi legendaris tersebut. “Contohnya lagu Bento yang dinyanyikan om Iwan, sekarang, besok, dan lusa selalu berbeda,” tutur Yose. Itulah yang menyebabkan lagu-lagu lama Iwan Fals tak monoton untuk dimainkan.

JENIUS

Yose resmi bergabung dengan band Iwan Fals di awal tahun 2014. “Sebenarnya ini adalah tawaran yang berulang setelah sebelumnya kesempatan belum ada”, kata Yose yang sebelumnya ia sangat disibukan dengan kegiatan bermusiknya dengan groupnya Mia Patria Choir. Group tradisional Indonesia yang memainkan musik (world music) sendiri dengan alat-alat tradisional.

Pria lulusan IKJ Jurusan Seni Pertunjukan ini, memang bukan drummer biasa. meski alat perkusi itu adalah cinta pertamanya, namun untuk berikutnya pria kelahiran 1987 ini lebih disibukkan dengan perannya sebagai komposer atau kadang konduktor. Sejak saat duduk di Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta (setara SMA) ia sudah gemar menulis komposisi lagu untuk dimainkan oleh siswa dari jurusan lain.

Tak ayal begitu memasuki ranah kuliah, pria berambut keriting ini sama sekali tak mengalami kesulitan secara akademis “Sebagian besar dosen pengujinya bahkan sudah pernah main bareng saya saat di Yogya” katanya terkekeh. Selepas IKJ, tak menunggu lama Yose pun mendapat tawaran untuk memperdalam seni pertunjukannya di California Institute of the Arts, “Hampir setahun saya disana,” kenang Yose yang sangat mengagumi konsep belajar disana.

MUSIK, PILIHAN HIDUP

Menerawang kisah lalu sejak kepergiannya ke Yogya di usia belasan tahun, Yose sudah bertekad akan menafkahi hidupnya hanya dari musik, “Saya ingin jadi musisi, saya akan makan dari situ!” katanya kepada orang tuanya saat ia mulai kost di Yogya. Keinginan kuatnya bergeming, seperjalanan waktunya menuntut ilmu di kota Gudeg tersebut. Tak sepeserpun ia menerima uang dari orang tua. Untuk hidup sehari-hari iapun mesti mengamen, berkarya dan berkesenian.

DRUM CINTA PERTAMA

Meski lihai di beragam alat musik (Cello misalnya), drum adalah cinta pertamanya. Terima kasih kepada Sandy Andarusman (Pas Band) yang telah menyihir Yose kecil dengan pesona permainan drumnya. “Saat itu saya kelas 3 Sekolah Dasar, lihat Sandy main di pembukaan mall Citraland, Jakarta” kenangnya. “Langsung saya murid pertama Sandy di sebuah sekolah musik di mall situ” Cerita Yose.

ARTIKEL LENGKAP, silahkan download Majalah Audiopro edisi 17 di Gramedia Digital (klik DISINIatau beli langsung di toko buku Gramedia terdekat ya Apro Reader’s! Jangan lupa follow semua sosial media Majalah Audiopro untuk informasi tentang musik dan audio lainnya.

Artikel By : Dini Wirasti
Photo By : Fajar Sutrisno

Related Posts