• Kamis , 18 Juli 2019

PUTU PARKER SERVICE GITAR BERSTANDAR U.S.A (USAHAKAN SELALU AJIB)

PERKEMBANGAN PASAR INDUSTRI INSTRUMENT MUSIK DI INDONESIA DARI TAHUN KE TAHUN SEMAKIN MENINGKAT. HAL INI TERLIHAT SEMAKIN MARAKNYA PELAKU BISNIS YANG TURUT BERKONTRIBUSI DI BIDANG INI. SALAH SATU ADALAH LUTHIER DAN SERVICE GITAR.

Di Jakarta sendiri, ada banyak luthier dan tempat service gitar yang terpercaya. Salah satunya adalah Putu Parker. Berbekal keterampilan yang di asah dari luar dunia musik. Iapun terus mempoles keterampilannya menjadi keahlian berguna di bidangnya saat ini.

Pernah kerja jadi cuci mobil dan cleaning service, Saya dapat ilmu untuk bersih-bersih gitar. Jadi kuli bangunan ngamplas kayu dan ngecat kayu, Saya dapat ilmu jadi bisa bikin gitar. Kerja di toko musik nyetel gitar, Saya dapat ilmu lagi. Ibaratnya tempat traning, semua yang pernah Saya kerjakan sekarang ini tumplek jadi satu. Dan Saya beruntung bisa memiliki itu semua.” Ujar pria kelahiran Nusa Penida ini.

Semua berawal dari tahun 1996 saat Putu bekerja di toko musik Pioner Teladan kawasan Blok M. Bakat terpendamnya tereksplor di sana dan mulai bertemu teman-teman luthier serta costumer yang hendak service gitar.

“Saat itu lagi hangatnya gitar merk Prince, pokoknya Saya bikin enak supaya gitar itu cepat terjual, biar kalau ada pembeli datang gitar itu sudah nyaman di mainkan. Semua di kerjakan tulus, Saya cuma berpikir kalau keluar dari sini Saya sudah punya bekal skill.” Tambah pria kelahiran 18 Juli 1974 ini.

MEMBUKA WORKSHOP

Sejak dulu, Putu memang ingin mempunyai usaha sendiri dengan konsep yang berbeda. Prinsipnya ia ingin saling membantu dan tidak ingin menyaingi ataupun merasa tersaingi. Keinginan tersebut mulai terwujud sekitar tahun 2008 dengan membuka workshop di daerah Pengadegan.

Saat itu, walaupun sudah banyak teman-teman yang datang untuk service ataupun membuat gitar, Putu belum percaya diri. Menginjak tahun 2011 saat workshopnya pindah di kawasan Condet, barulah Putu berani melakukan promosi di social media. Di tahun itu juga Putu bertemu gitaris blues Rama Satria yang membawa gitar White Ladynya karena telah lama mati suri. Iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menunjukan hasil kerjanya. Saat Gitar tersebut sudah kembali bunyi dan dapat digunakan Rama langsung memakainya di acara Televisi Show, hal tersebut yang secara tidak langsung membantu promosikan Putu.

CUKUP TUNJUKAN KERJA YANG BENAR

Saat Audiopro mendatangi Workshop yang terletak di Jl. Kayu Manis Gang H, Aria 1 No. 46D Condet Jakarta Timur ini terbilang cukup padat degan antrian yan gsudah ada. Sudah puluhan bahkan ratusan lebih gitar dengan bermacam harga yang sudah mampir kesini.

“Dulu sekitar tahun 2008, ada yang minta dibuatkan gitar double neck model PGM series. Dengan modal ilmu yang masih minim, Saya punya patokan akan maju atau tidak kedepannya. Ketika jadi, gitar itu dipakai pada acara musik dering di salah satu TV swasta, ternyata gitar itu banyak mendapat komentar positif. Nah mulai saat itu Saya semakin semangat membuat gitar, merepair gitar dan coba menekuni bidang ini lebuh dalam.” Cerita pria yang bernama lengkap Putu Sudarsane.

Tidak sedikit Putu menangani problem yang ekstrem. Dengan pertimbangan yang matang dan siap dengan konsekuensinya. Ia sudah beberapa kali menyanggupi permintaan costumer yang cukup aneh. Dari potong body gitar, menipiskan gitar dan yang lainnya. Seringnya permintaan yang tergolong ajaib, membuat Putu membuat tagline nyeleneh “U.S.A” Usahakan Selalu Ajib agar mudah di ingat.

ARTIKEL LENGKAPNYA, silahkan download Majalah Audiopro Edisi 15 di Gramedia Digital (klik DISINIatau beli langsung ke toko buku Gramedia terdekat ya Apro Reader’s! Jangan lupa follow semua sosial media Majalah Audiopro untuk informasi tentang musik dan audio lainnya.

Artikel By : Ressa S.M
Photo By : Ressa S.M

Related Posts