• Jumat , 6 Desember 2019

ARIFIN KOLEKTOR GITAR YANG BERTEMATIK

GITAR MEMEGANG PERANAN SANGAT PENTING DALAM PERKEMBANGAN MUSIK DI DUNIA. BISA DIKATAKAN, ALAT MUSIK BERDAWAI INI MENJADI SALAH SATU INSTRUMENT YANG MEMBUAT PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN MUSIK SEPERTI SEKARANG INI. PASALNYA GITAR TERMASUK INSTRUMENT PALING MENARIK UNTUK DIMAINKAN DENGAN SEGALA MACAM MODEL.

Ada pertanyaan yang sering muncul, apa yang membuat gitar bisa menjadi barang koleksi? Gitar telah terbukti mampu melampaui masa yang cukup lama dan tetap berada dalam kualitas tebaiknya. Terlebih gitar tersebut punya nilai sejarah yang tinggi. Selain faktor kualitas, keindahan dan sejarah di balik gitar itu sendiri, hobi yang satu ini juga bisa dijadikan investasi.

Bukan karena gitaris, hobi yang berawal saat Arifin membuka toko alat musik di Jakarta Timur pada akhir 2012 lalu ini telah mengumpulkan lebih dari 30 gitar serta bass dari berbagai merk. Namun lebih dominan ke Fender seperti Custom Shop, American Vintage Custom, Artist, atau Ibanez seperti artist Series Signature.

Kolektor gitar di Jakarta yang satu ini mempunyai alasan tersendiri kenapa memilih koleksinya secara tematik, artinya hanya collector item yang mempunyai historical saja yang ia buru. “Gitar itu ada level tingkatan tertentu, seperti Fender Custom Shop Relic yang memang banyak historinya dan terbuka untuk publik, nah dari situ mulai koleksi gitar Relic dan mulai nyari gitar yang ada Historinya. Di Negara mana saya berkunjung, kalau ada gitar bagus yang saya suka, saya langsung beli.” Ujar Arifin saat bertemu di Hari Hari Musik.

RELIC DAN HISTORICAL

Gitar Relic semakin mendapat tempat di hati para kolektor. Ada nilai estetika tersembunyi di balik gitar tersebut sehingga mempunai nilai seni yang lebih dan menjadi kebanggan tersendiri memilikinya. Fender yang dipilih Arifin untuk kebanyakan koleksinya selalu membuat series re-issue (new stock with old spec).

“Kenapa Custom Shop Fender harganya mahal, apalagi yang relic bisa 40-300 juta? Karena bukan sekedar di bikin terus dipoles, Fender itu punya warehouse untuk kayu stock lama yang sudah matang usianya dan baru di produksi setelah beberapa tahun. Itulah kenapa kalau sentuh gitar Relic itu rasanya nyaman di pegang, feel dan soundnya beda sama gitar yang kayunya baru.” Sambung Arifin.

Berbeda dengan gitar Historical, gitar ini telah memberikan banyak cerita dan melewati banyak momen yang tidak dapat diungkapkan nilainya. Kesan yang telah didapat bersama gitar tersebut tidak akan terulang kembali. Nilai sejarah inilah yang sangat berharga.

Seperti gitar Fender Telecaster J5 yang dimiliki Arifin. Gitar ini adalah Prototype John 5 untuk Fender sesuai spek yang ia inginkan. “Tadinya gitar ini koleksi Norman Rare Guitar di Tanzana Amerika. Pemiliknya Norman Harris memang kolektor juga yang suka gitar vintage, salah satu gitarnya adalah J5 ini. Awalnya dia nunjukin gitar ini ke saya. Karena dia kenal baik dengan John 5, Norman sayang banget sama gitar ini. Dia gamau jual itu gitar, tapi saya lobi terus, akhirnya mau juga.” Cerita Arifin.

 

Mempunyai banyak koleksi gitar berarti ada perawatan tersendiri. Tujuan paling utamanya adalah agar gitar tersebut tetap dalam kondisi prima terlebih memang gitar tersebut adalah koleksi yang harga dan nilai Historinya tinggi. “Yang pasti kontrol udara di ruangan agar terbebas dari karat, beberapa di letakan pakai Hardcase agar aman. Kalau yang Relic saya tidak terlalu pusing, karena kalau Relic itu bodynya sudah hancur, apalagi yang Heavy Relic. Jadi mau kepentok sedikitpun saya tidak pusing. Nah kalau yang masih mulus seperti kelas Costum Shop, body dan part dijaga banget agar tidak ada kerusakan. Karena kalau kolektor beda ya, begitu dapet gitar, kalau mulus ya harus mulus sekalian tidak ada baret halus sedikitpun jadi perawatannya harus detail dan extra hati-hati.” Jelas Arifin.

Selain hobi, mengoleksi gitar bisa menjadi investasi. Karena ada beberapa merk gitar tertentu yang tetap stabil harganya, tanpa butuh effort yang terlalu banyak valuenya akan naik. “Sebagai investasi iya, karena gitar semakin tua harganya makin tinggi. Di pasaran dunia, yang umum biasanya Fender dan Gibson. Yang saya rasakan sendiri, karena saya juga penjual gitar dan sebagai dealer instrumen musik merasakan banget kalau tiap tahun order lagi seperti Fender harganya pasti naik. Mereka yang setting dan maintenance harganya. Kalau dari sisi toko jangan sampai yang punya stock gitar itu rugi, nah kalau dari sisi costumer atau kolektor, harga gitar yang mereka miliki itu tetap stabil, bahkan naik.” Tambah pria yang pernah menjadi desainer PCB modul komponen elektro ini.

ARTIKEL MUSIK DAN AUDIO LAINNYA, silahkan download Majalah Audiopo (DISINI) atau beli langsung di toko buku Gramedia terdekat ya Apro Reader’s! Jangan lupa follow semua sosial media Majalah Audiopro agar Apro Reader’s tetap Up To Date.

Artikel By : Ressa S.M
Photo By : Ressa S.M

Related Posts