• Kamis , 17 Oktober 2019

SEPEREMPAT ABAD NTRL DI JALUR RAMAI !

Nama NTRL memang baru disandang oleh band asal Jakarta 2015 silam. Namun jauh sebelumnya mereka sudah lebih dulu eksis dengan nama Netral sejak 1993 yang formasinya terdiri dari Bagus (bass, vokal), Miten (gitar), dan Bimo (drum) yang menelurkan tiga album yaitu “Walah!” (1995), “Tidak Enak” (1997), dan “Album Minggu ini” (1998).

 

Di tahun ini, 25 tahun sudah NTRL malang melintang di industri musik tanah air. Untuk itu 30 November 2018 kemarin mereka tampil liar di ruang kecil i-six Bar, Kemang Jakarta Selatan merayakan ulang tahun perak NTRL berkarya. Konser ini ibarat mesin waktu yang membawa penonton menjajaki perjalanan band itu dari masa ke masa. Sekitar pukul 20.00 mereka membuka penampilan hits debut mereka “Walah!”, lagu bertempo cepat yang melejitkan nama NTRL pada 1995 itupun langsung membakar suasana café malam itu. Ada hal bersejarah pada malam itu, NTRL mencoba melengkapi nostalgia dengan mengajak personel lama.

Di balik set drum ada penabuh drum pertama Netral, Bimo. Sementara di gitar ada Didit Saad menggantikan Miten yang meninggal karena sakit pada 2012 silam. Mantan gitaris band rock Plastik itu memang tak asal dicomot oleh NTRL untuk tampil. Karena, justru Didit Saad adalah gitaris band Bagus dan Bimo sebelum Netral terbentuk.
Dengan formasi itu, NTRL membawakan tiga lagu lawas. Selain “Walah!” juga dimainkan “Bobo” dari album kedua mereka, serta “Pucat Pedih Serang” dari album ketiga. Usai lagu ketiga, Bimo undur diri digantikan oleh Eno. “Cahaya Bulan” yang diambil dari album keempat “Paten” (1999) pun dimainkan. Sejak lagu pembuka, kerumunan memang tak diberi jeda untuk tak ber-moshing ria.

Lagu “Cahaya Bulan” memang cukup bernilai historis bagi Eno. Di album ini, untuk pertama kalinya dia masuk NTRL menggantikan Bimo yang meninggalkan band. Penampilan di lagu hits ini pun begitu urakan. Di lagu yang masih diambil dari album “Paten” itu, NTRL mengajak serta vokalis perempuan Radhini dan keyboardis Adra Karim untuk berkolaborasi. NTRL pun kemudian mundur satu masa ke “Album Minggu Ini” (1998) dengan lagu “Kau” yang kembali jadi santapan penonton.

Setelah itu, lagu yang direkam dengan formasi saat ini “Haru Biru”, “Terbang Tenggelam” dan “Sorry” dari album “Putih” (2005) secara berturut-turut dimainkan. Total ada 16 lagu mereka bawakan malam itu. Sejumlah hits seperti “Pertempuran Hati”, “Lintang”, “Zero Toleransi” dan “Garuda di Dadaku” turut dinyanyikan bersama penonton yang tak lelah berdesakan. Penampilan malam itu ditutup lagu cover “Desaku” ciptaan L Manik yang dibawakan secara urakan khas ala NTRL.

Memang, jika berpatokan pada standar kelayakan sebuah konser. Untuk band sekelas NTRL konser tersebut mungkin tidak begitu ideal. Tapi siapa yang peduli kalau yang di sajikan semalam adalah sebuah perayaan dengan tema “Dari NTRL untuk NTRLZR”. NTRLZR adalah sebutan untuk fans NTRL. Konser itu adalah sebuah bentuk apresiasi dan keakraban antara idola dan fans. Semua punya energi yang sama, keringat yang sama, plus keriaan yang sama menyambut usia baru NTRL dalam konser intim bersejarah malam itu.*RESSA SM.

Related Posts