• Kamis , 12 Desember 2019

LAGU JAMAN KOLONIAL DIMAINKAN MUSISI MILENIAL

MENGGANTUNG SPEAKER AGAK LUMAYAN TINGGI DENGAN SUDUT AGAK KEBAWAH. INI DILAKUKAN AGAR PENONTON MENDAPAT DIRECT SOUND YANG TEPAT.

 

Gedung Bagas Raya di daerah Depok yang sejatinya adalah gedung pertemuan “disulap” menjadi sebuah ruang untuk pertunjukan konser pada awal Desember 2018 lalu. Konser yang bertajuk Welcome To Concert dengan tema lagu-lagu perjuangan yang dipersembahkan Esemka Dua Cibinong Orchestra (EDCO) adalah sebuah acara untuk menyambut para siswa-siswi angkatan baru SMKN 2 Cibinong ini terbilang cukup unik. Lagu-lagu yang dibawakan malam itu justru menjadi kenikmatan tersendiri bagi para penonton.

PEMAIN GENERASI MILENIAL

Persiapan konser yang membutuhkan waktu hampir dua bulan ini menampilkan 11 lagu dengan durasi dua jam dengan konduktor Zulfahmi S.SN. Lagu tema perjuangan seperti Gugur Bunga , Melati di Tapal Batas, Selendang Sutera, Wanita (Ismail marzuki), Indonesia Jiwaku (Guruh Seokarno Putera), Bangun Pemuda Pemudi (Alfert Simanjutank) yang di aransemen oleh beberapa guru dan siswa sekolah tersebut sengaja ditempatkan pada pertengahan konser.

Sebelumnya lagu Indonesia Raya berkumandang sebagai tanda penghormatan kepada Bendera Merah Putih sekaligus membuka acara konser disusul kemudian lagu Pomp And Circumstance March No. 1 (Erward Elgar). Beberapa jajaran dari lingkungan TNI, Kepolisian RI, Perwakilan Pemda setempat, serta orang tua siswa turut hadir diacara konser tersebut .

Disini keunikannya. Para musisi konser malam itu adalah para generasi milenial yang tidak mengalami atau bahkan tidak mengetahui secara persis masa-masa perjuangan Indonesia ketika merebut kemerdekaan. Bahkan bisa dikatakan lagu-lagu yang dimainkan begitu awam bagi para musisi tersebut. “Kalau tidak ada konser ini, mungkin kami, terutama saya, tidak akan tahu bahwa beberapa lagu yang kami bawakan adalah termasuk lagu perjuangan, bahkan beberapa lagu , baru kami dengarkan saat kami memulai awal-awal latihan,” tutur Lintang T Samudhera salah satu pemain violin dikonser itu.

Sementara penonton yang generasi nya lebih dekat dengan masa-masa dimana lagu-lagu tersebut sering diperdengarkan pada saat dulu, konser ini menjadi kenangan tersendiri. Terbukti para penonton begitu terkesan dengan penampilan musisi milenial dikonser ini, dengan ikut bernyanyi ketika lagu Selendang Sutera, Wanita, Melati Di Tapal Batas dimainkan. Mengenai pemilihan lagu-lagu, selain menumbukan rasa bangga terhadap para pejuang Indonesia juga ingin mengulas perjuangan mereka.

“Kami ingin mengulas perjuangan Rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan melalui konser ini, hingga akhirnya Sang Saka Merah Putih bisa berkibar di Indonesia hingga sekarang,” jelas Pipit Nurwidayati, dari pihak penyelenggara sekaligus salah satu guru sekolah tersebut , ketika ditanya mengapa lagu perjuangan yang dipilih dalam konser ini. Info lanjut, mengenai Line Array Martin Audio. Baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 12 2018. *Farid Syamsuri.

Download Majalah Audiopro disini atau beli langsung di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya.

Related Posts

One Comment

  1. dewi amalia
    15 Januari 2019 at 9:16 pm Balas

    penampilan para siswa malam itu benar2 luar biasa. kami sebagai penonton sangat antusias dan sangat menikmati setiap perform yg ditampilkan…bravo edco!!