• Kamis , 24 Januari 2019

BERPACU DALAM GELEGAR SOUND SYSTEM

KETIKA LASER DISC DIPASARKAN PADA TAHUN 1988 BANYAK YANG MENDUGA KALAU HIDUPNYA BIOSKOP HANYA MENGHITUNG HARI. KARENA LASER DISC BUKAN HANYA UNGGUL PADA KUALITAS GAMBAR TETAPI JUGA MANTAP DI KUALITAS SUARA.

 

Apalagi ketika Blu-Ray mulai merambah dunia hiburan elektronik dan dunia home theater mulai diminati orang maka seakan bioskop menjelang ajal. Namun dugaan itu meleset karena perbioskopan juga mengalami banyak kemajuan dengan hadirnya teknologi Dolby Atmos dan DTS-X pada audio dan teknologi 4K bahkan 8K pada video (gambar). Ada satu keunggulan pada bioskop yang tak dapat disaingi oleh home theater seperti suasana cafe, layar lebar dan tata suara menggelegar yang tak mungkin diperoleh pada tata suara kebanyakan home theater.

DTS-X

Bulan silam kami mendapat undangan dari bung Kek Cung pemilik KC Sound – kontraktor instalasi bioskop. Kami diundang untuk menyaksikan kebolehan tata suara Flix Theater di Hall 5 yang bertata suara DTS-X. Kebetulan sedang ditayangkan film semi detektif “Bad Times at the El Royale”. Konon tata suara Hall 5 sudah diup-grade menjadi jauh lebih baik dari pada kunjungan kami terdahulu. Flix bisa dibilang bioskop kelas papan atas yang berada di lantai 3 Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue,mal teranyar di kawasan Jakarta Utara.

Dekor Flix apik , dari koridor dan kafe, pengunjung dapat melihat lewat jendela kaca besar – kawasan Pantai Indak Kapuk beserta pulau buatan. Hall 5 salah satu ruang bioskop yang dirancang untuk tata suara DTS-X (analogi Dolby Atmos). Di dalam ruang bioskop ini terpasang sejumlah speaker sebagai berikut:

  • Speaker Depan : Kiri, Tengah, dan Kanan (3 unit)
  • Subwoofer : Tengah (4 unit)
  • Speaker X tended : Kiri (1 unit) dan Kanan (1 unit)
  • Speaker Surround : Kiri (5 unit) dan Kanan (5 unit)
  • Belakang Kiri (3 unit) dan Kanan (3 unit)
  • Atas Kiri Depan (3 unit) dan Belakang (3 unit)
  • Atas Kanan Depan (3 unit) dan Belakang (3 unit)

Terbayang betapa banyak speaker dan amplifier yang harus dipasang untuk speaker depan (utama) dipakai Nova C Line 33 sebanyak 3 unit dan subwoofer Nova NCS121SB sebanyak 4 unit. Untuk speaker surround digunakan Nova CP 8N sebanyak 30 unit. Speaker X tended Nova A10 (sebanyak 2 unit). Di kamar operator terpasang 13 amplifier terdiri dari Nova X1200 dan Nova X2000 . Ditambah Loudspeaker Management Nova DC8000, Equalizer DEQ DB Mark tipe 231 , 431, power sequencer DB Mark PR 381 serta power conditioner MSHD Rodium. Sedang untuk projector dipakai Barco Theater Projector.

DTS-X membagi zona atas dalam empat bagian yakni atas kiri depan, atas kiri belakang, atas kanan depan dan atas kanan belakang. Dengan demikian bunyi kepak sayap burung atau gemuruh pesawat udara yang melintas di atas kepala penonton dapat dipetakan dengan sempurna dan dalam hal ini kanal X tended dan kanal surround belakang turut membantu pelintasan bunyi objek yang melintas di atas kepala penonton.

Selain itu fungsi dari kanal / speaker X tended adalah untuk melebarkan bidang dimensi suara kiri – kanan melampaui batas layar bioskop tepi kiri dan kanan. Ibarat episode mobil formula melintas layar maka bunyi deru mesin Formula sudah terdengar jauh di kiri – di luar bingkai layar kemudian masuk ke dalam bingkai layar , melintasi layar dan terus menerabas tepi layar kanan melaju keluar jauh di kanan layar – itu keistimewaan DTS-X. Dengan demikian DTS –X mengadopsi 13.1 kanal.

Kami menikmati tayangan film “Bad Times at the el Royale” – sebuah film semi detektif dengan sejumlah bunyi “kejutan” dalam format DTS-X. Sengaja sang sutradara menyelipkan bunyi kejutan di tengah kesepian. Seperti bunyi letusan senapan yang mendadak di tengah kesenyapan saat ada orang mengintip Atau bunyi pintu didobrak hingga serpihan kayu pintu bertebaran. Kek Cung menata low frekuensi dengan tujuan mendapatkan detil bunyi yang lebih akurat meniadakan bunyi boomy yang menutupi bunyi aslinya. Tersimak bunyi hentakan low frekuensi yang lebih pendek karena tidak ditutupi harmonik bass “gemuk”. Bagi penyuka akurasi, racikan Kek Cung mendapat acungan jempol, karena bunyi pintu yang ditendang asli bunyi kayunya.

Namun bagi kebanyakan orang (awam) merasa bunyi dobrakan pintu ini kurang “berat” , mereka menyukai gelegar yang bergemuruh yang terkesan berat walaupun ini tidak akurat. Tentunya ini dilema. Sebab setiap penataan audio tak mungkin memenuhi keinginan setiap orang.

Artikulasi vokal artis bagus dengan sibilans wajar tidak ada bunyi “esss” tajam. Ketika Darlene bernyanyi (dibawakan oleh biduanita Cynthia Erivo) tersimak vokalnya wajar, bunyi letupan bibir dan decakan lidahnya juga wajar sekali. Kami menikmati sajian senandung Darlene tanpa diimbuhi musik. Untuk bunyi nada tinggi cukup memenuhi standar yang dibutuhkan bagi bunyi pecahan kaca jendela, namun tersimak kurang tinggi untuk sajian musik.

Harap diingat pada perfileman ada standard SMPTE yang menurunkan amplituda di atas 12.5 kHz. Dari sudut transien, dinamika, sistem racikan Kek Cung memenuhi target karena mampu membuat penonton terkejut. Artikulasi dan tonal balance teratur dan baik. Saya kira ini bioskop dengan tata suara apik yang ada di kawasan Jakarta Utara yang layak anda coba. *Tjandra Ghozalli.

Related Posts