• Rabu , 20 Maret 2019

Konser Kenangan Guns N’ Roses di GBK

Guns N’ Roses (GnR), boleh dikata sebagai grup rock mancanegara paling tersohor di Indonesia pada 1988-1994. Sayangnya, mereka hadir dan tampil secara langsung di hadapan puluhan ribuan pasang mata Indonesia, khususnya Jakarta,  ketika kualitas memudar di makan waktu.

 

photo by Istimewa

Itulah yang terlihat dan bisa disimpulkan dari penampilan GnR pada bagian Not In This Lifetime Tour 2018, di Gelora Bung Karno (GBK), Kamis (8/11). Buruknya vokal Axl Rose, sungguh berbeda dengan hasil rekaman studio, kian diperparah dengan output sound. Tembang-tembang keren macam Estranged, This I love, Civi War, Coma, terdengar ‘aneh’ dan kehilangan ‘soul’-nya. Tapi sepertinya lebih dari 20ribuan penonton tak peduli. Para penonton yang kebanyakan berada di usia mapan (35 tahun) ke atas, tetap berjingkrak, berteriak, ikut bernyanyi memanaskan suasana.

GnR langsung menggebrak. Dibuka dengan It’s So Easy, lanjut dengan Mr Brownstone, Chinese Democracy dan Welcome to The Jungle. Tak banyak komunikasi yang dibangun Axl Rose selaku frontman. Dia sepertinya lebih suka bernyanyi dan mengganti penampilan setelah beberapa lagu, ketimbang banyak bicara. Sayangnya, vokal Axl tidak ‘keluar’.

Photo by Istimewa

Terdengar tak maksimal dan kalah dengan garukan gitar Slash yang diimbangi Richard Fortus. Vokal bassist orisinil GnR, Duff McKagan terdengar bersih dan artikulatif ketika menyanyikan tembang milik The Misfits, Attitude. Pada pertunjukan malam itu, Duff memang ‘mencuri’ perhatian penonton. Duff seorang, yang penampilannya tak mengalami banyak perubahan dibandingkan 30 tahun lalu. Sangat berbeda dengan dua rekannya.

Bertajuk reuni, GnR hanya menghadirkan tiga personil orisinil. Tiada Izzy Stradlin dan Steve Adler. Musisi lain yang menyokong adalah Richard Fortus (gitar), Dizzy Reed (keyboard), Melissa Reese (keyboard) dan Frank Ferrer (drum). Slash, seperti biasa, memainkan solo theme song film Godfather, termasuk bagian dari lagu Speaks Softly Love. Tampilan textbook yang biasa dia hadirkan di setiap konsernya ketika tampil sendiri, dengan band lain maupun GnR.

Yang ‘wah’ justru tampak ketika Slash duel dengan Fortus membawakan Wish You Were Here-nya Pink Floyd. Malam itu, GnR cukup banyak membawakan tembang orang lain. Beberapa, seperti Wichita Lineman milik Jimmy Webb dan The Seeker-nya The Who, memang kurang populer di kuping orang Indonesia. Jadinya digunakan untuk rehat sejenak, karena setelah itu, lagu-lagu populer GnR seperti November Rain yang berkumandang.

PALING TERSOHOR

Sejak album Apetite for Destruction meluncur di pasar pada 1987, dan mulai populer di Indonesia setahun berikutnya berkat tembang Sweet Child O Mine, pamor GnR begitu merasuk publik Indonesia, bahkan untuk para awam yang bukan penyuka musik rock. Maklum, Axl Rose (vokal), Slash (gitar), Izzy Stradlin, Duff McKagan (bass) dan Steven Adler (drum), tak cuma andal meracik lagu menyenangkan macam Welcome to Jungle, Paradise City dan Rocket Queen, tapi juga punya tampilan yang bisa dijadikan panutan mode remaja ketika itu.

Bandana, celana ketat, sapu tangan yang yang dibiarkan terurai di kantung celana belakang, hingga kemeja kotak-kotak lengan panjang yang diikat dipinggang. Artwork album tersebut pun bisa dilihat di banyak tempat, bukan cuma di kaos atau bendera, tapi juga dinding-dinding kota. Baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 11 2018. *Dini.

Download majalah Audiopro di https://ebooks.gramedia.com/magazines/audiopro atau beli langsung di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya.

 

Related Posts