• Selasa , 17 September 2019

NOXA MEMBESAR DI CERUK KECIL

Berawal dari keinginan nge-band dan bermain musik ‘ngebut’ sengebut-ngebutnya. Dibalut dengan konsep idealis yang kental dengan pemikiran kritis dan bertindak tanpa basa-basi jadilah NOXA mengaliri genre grindcore dalam darah bermusiknya.

Grincore sendiri adalah genre bermusik yang sangat segmented. Merupakan hasil pembelahan dari musik underground (ini saja sudah spesifik) menjadi salah satu sulurnya bersama aliran  death metal-trash metal dan lain-lain. Kebayang dong’ bagaimana semakin terspesifikasinya penggemar aliran musik ini, “ Tapi ini musiknya beda memang, lebih ekstreem aja..” ujar Ade (gitaris) saat bertandang ke kantor AudioPro beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya sejak bermusik, mereka yang terilhami Napalm Death dan Nasum tidak pernah memikirkan besaran kue’ penikmat musik grindcore bahkan industri musik sekalipun. Namun itu tak jadi masalah, selama NOXA konsisten pada jalannya. Band yang terbentuk sejak tahun 2002 ini, buktinya semakin dalam menancapkan kukunya di ranah grindcore. Tak hanya di Indonesia, NOXA mengepakkan pesona musik kerasnya bahkan ke beberapa penjuru dunia.

Propaganda Album Ke-Lima

Empat personil NOXA:  Ade (gitar), Tonny (vokal), Dipa (bass) dan Alvin (drum)  berkepala lurus untuk tetap berkarya, sesuai idealisme dan jati diri mereka. Tak terasa, tahun ini band asal Jakarta ini telah menginjak usia ke-16. Maret lalu, NOXApun resmi merilis album ke-5 mereka’Propaganda’.

‘Propaganda’ tetap banyak mengangkat tema sosial,  kritik politik, dan kehidupan sehari-hari, “ Sebenarnya apa saja bisa kita buat lagu, bahkan trotoar bisa jadi lagu…” ujar Alvin yang iyakan ketiga rekannya. ‘Trotoar’ adalah salah satu lagu yang ada di album terbaru mereka itu. Spontanitas, memang kerap mewarnai pembuatan lagu-lagu mereka, namun untuk prosesnya tetap musik harus dibuat terlebih dahulu. “ Lirik-lirk sudah dibuatkan sebelumnya, tinggal cari mana yang cocok dengan  musiknya..” ujar Dipa dan Tonny yang paling sering membuat lirik.

Dibanding keempat album sebelumnya,’Propaganda’ adalah album yang paling serius dibuatnya. Terutama dalam proses produksiya.  Recording “Propaganda’ dilakukan di studio SSR Kelapa Gading Sedangkan masteringnya dilakukan di USA. “ Sebelumnya kita urunan dulu, buat produksi yang serius ini” ujar Ade. Menawarkan ke label tempat mereka bernaung sebelumnya (Mercon) tidak mendapat kesesuaian harga. Akhirnya bertemulah mereka dengan label mereka sekarang, Blackandje.

NOXA Fest

Melalui dukungan Blackandje pula, NOXAFest yang ke-3 pada bulan Maret lalu digelar, “ Sekaligus launching album ‘Propaganda’ ini” ujar Ade lagi. NOXAFest pertama sendiri awalnya dibuat sebagai bentuk perayaan ke-10 tahun NOXA berkarya.  Disitu NOXA mendatangkan band-band lain (tidak hanya grindcore melainkan juga metal ekstrem) untuk tampil.  Menjadi ajang silahturahmi, para penggemar underground juga saling bertemu. Sekaligus menjadi tempat yang tepat bagi para penggemar garis keras untuk membeli dan mengumpulkan beragam merchandise group band favoritnya.  NOXA Fest sejak pertama diadakan di gelanggang remaja Bulungan, Jakarta Selatan.

Untuk NOXAFest 4 sudah direncanakan berlangsung pada Desember 2018, “ Jadi ini bukan event terjadwal, terserah kita aja maunya kapan..” tutur Alvin santai. Agenda lain dibuatnya  festival underground NOXA Fest  adalah sebagai media untuk mengajak generasi muda agar terus berkreasi di scene underground,” Kita jadikan sebagai wadah dalam menjalin hubungan antar negara dengan cara kerja sama dengan band-band luar negeri untuk bisa main di Indonesia” tambah Ade. Info lanjut mengenai, Terbesar di dunia dan Skema Noxa baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 11 2018. *Dini.

Download Majalah Audiopro https://ebooks.gramedia.com/magazines/audiopro atau beli langsung di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya.

Related Posts