• Jumat , 16 November 2018

Dari Konser Megadeth ‘JogjaROCKarta’: Pakai IEM agar Monitor Fokus dan Front Stage’Bersih”

Salah satu ciri khas panggung live Megadeth adalah kondisi panggung bagian depan yang bersih, tanpa wedges (floor monitor). Konon kejadian Mustaine meminta wedges dipindahkan ke bagian belakang panggung, dicandai dengan kekhawatiran sepatu kerennya bakal tak terlihat terhalang wedges. Ada-ada saja..

Dalam riders Megadeth memang tak menyertakan wedges di dalamnya. Entah kenapa ketika soundcheck tiba, speaker monitor tersebut sudah terjogrok di atas panggung utama, panggung yang bakal digunakan Megadeth pada malam harinya. Sontak Mustaine memerintahkan beberapa kru untuk memindahkan peralatan ke bagian belakang panggung. Vokalis, lirinis, gitaris sekaligus pendiri Megadeth itu memang terkenal tegas (sekaligus moody), di beberapa kesempatan bahkan ia terkesan galak.

Tanpa menggunakan wedges atau floor monitor, Mustaine dan kawan-kawan lebih memilih menggunakan IEM (In Ear Monitor). Didisain sewarna kulit, IEM yang nempel di telinga mereka nyaris tak terlihat jika tidak mengamatinya secara detail. Dan IEM tak menganggu pergerakan  mereka yang atraktif di atas panggung. Mengandalkan IEM lagi-lagi bukan hal yang baru bagi anggota Megadeth. Mustaine memang terkenal sebagai musisi yang teliti dalam dunia audio. Setiap sound check, ia akan mencoba mendengarkan setiap instumen (tak hanya gitar) dengan telinganya saja (tanpa ear monitor). Kemudian setelah nyaman dengan level dan tone, dia akan mendengarkannya dengan in ear monitor dan langsung bermain dengan konsep band. Dimulai dengan sound drum, disusul instrumen yang lain. Rangkaian itu dilakukan saat PA(Public Addres) di-mute dahulu.

Konsep penggunaan hanya IEM (tanpa sepaker monitor)  memang sudah biasa, terutama untuk musik jazz atau pop.Namun untuk band sekeras Megadeth cara ini cukup di luar kebiasaan, karena untuk musik metal/rock biasanya tetap membutuhkan ambien bocoran suasana live. Penampilan Megadeth malam itu juga tidak menggunakan amplifier, namun lebih memilih Muti Efect Fractal, pilihan yang lagi jadi favorit musisi kelas dunia. Konon Multi Effect ini membuat sistem sound lebih simpel, berkat teknologi yang diusungnya. Jadilah sebuah pertunjukan yang merupakan gabungan  antara bakat, skill, ketelitian dan teknologi.

Jalannya Konser

Konser Megadeth adalah kali kedua JogjaRockarta digelar. Konser yang berlangsung di Stadion Kridosono ini, masih mengusung konsep unik menggunakan 2 panggung, satu panggung untuk band lokal dan satu panggung khusus Megadeth, sebagai band utama. Penutup gelaran. Megadeth memulai konsernya tepat pada  pukul 21.40 WIB. Group trash asal Los Angeles ini tampil dengan formasi lengkap: Dave Mustaine (vokal/gitar), David Ellesfson (bass), Kiko Loureiro (gitar) dan Dirk Verbeuren (drum). Menyapa 15.000 penggemarnya , Megadeth langsung membuka dengan 4 tembang top mereka,  ‘Hangar18’, ‘The Threat is Real’, ‘The Conjuring’ dan ‘ Wake up Dead’.  Sejenak mengucapkan salam, dan kegirangan Dave main di hadapan para penikmat musik di Indonesia , “ Jauh-jauh dari state ke sini, hanya untuk main satu kali show.

Photo by Istimewa

Ini menunjukan betapa penting kalian semua.” Ujar Dave langsung disambung dengan lagu hits ‘ In My Darkest Hour’ . Disusul kemudian ‘Sweating Bullets’, ‘She Wolf’, dan ‘Tornado of Soul’.  Dalam beberapa kesempatan, Mustaine dan Kiko kerap melakukan duet gitar berbahaya. Kiko sebagai gitaris termuda di megadeth (gabung pada tahun 2105), mampu mengimbangi permainan Mustaine. Total lagu yang dibawakan adalah 11 lagu dalam durasi sekitar 1,5 jam. Lagu-lagu popular lainnya yang dibawakan adalah ‘Conquer or Die’, ‘Trust”, ‘Dawn Patrol’, ‘Poison Was the Cure’, ‘My Last Words’, juga lagu slow seperti ‘A Tout Le Monde”, ”Take No Prisoners”, ”Dystopia”, ”Shympony Of Destruction” hingga ”Peace Sells but Who’s Buying”.

Hingga akhirnya ditutup dengan lagu berjudul’ Holy Wars’ Sebagai catatan, Megadeth mampu bertahan sebagai band thrash metal terkemuka di dunia selama 30 tahun ini. Tercatat 38 juta keping album telah mereka jual di seluruh dunia. Selain itu, lima penghargaan berturut-turut sertifikat Platinum berhasil diraih Megadeth. Dari album Peace Sells.. but Whoís Buying? (1986), So Far, So Goo, So What! (1998), Rust in Peace (1990), Countdown to Extinction (19912), dan Youthanasia (1994). Terkini, setelah 12 kali sebagai nominasi, Megadeth akhirnya memenangi best metal performance di ajang Grammy Award 2017.

Penutup Tour

Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia Communication, promotor JogaROCKarta. Usai penampilan Megadeth mengatakan bahwa pihaknya baru dikabari bahwa aksi Megadeth di Kridosono adalah penutupan dari tur album Dystopia mereka. Sebuah album yang membawa mereka meraih Grammy Awards untuk pertama kali setelah lebih dari 30 tahun bermusik. Yogyakarta menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara yang disinggahi Dave Mustaine cs. Sebelum ke Indonesia, mereka telah manggung di beberapa negara seperti Spanyol, Portugal, Perancis, Belgia hingga Italia sejak April 2018 lalu. *Dini.

Related Posts