• Kamis , 18 Oktober 2018

Ray Prasetya Drummer yang Menyukai Beragam Genre Musik

RAY PRASETYA, DRUMMER KELAHIRAN BEKASI OKTOBER 1997 MULTI TALENTA, SEJAK USIA 5 TAHUN SUDAH NAMPAK MEMILIKI BAKAT DALAM BIDANG SENI MUSIK.

 

Ray Prasetya yang disapa Ray kini sudah menjadi musisi professional sebagai session drummer sejumlah musisi besar. Beberapa waktu lalu, Ray ikut berkontribusi sebagai session drummer opening/closing ceremony Asian 2018 dibawah naungan music director Ronal Steven. Ray drummer muda berbakat, sudah mengenal dunia seni musik sejak kecil. Sejak kecil Ray mengikuti kursus drum selama tujuh tahun hingga usia remaja.

Ray pernah mengikuti ajang pencarian penyanyi cilik (2018) Idola Cilik masuk dalam 11 besar. Tampak drummer ini memiliki multi talenta tidak sekadar bermain drum, namun ia memiliki bakat bernyanyi, bermain piano dan gitar. Ray cukup konsisten selama mengikuti kursus drum. Pada waktu itu, Ray salah satu anak yang tekun mengikuti kursus drum dan tak merasakan jenuh.

“Saya berhenti kursus drum ketika guru saya ada kesibukan lain. Kalaupun beliau masih ada kesempatan mengajar tentu saya masih mau berguru dengannya,” ujar Ray ketika ditemui tim Audiopro di Yamaha Musik Indonesia, Jakarta. Usai berhenti kursus drum di salah satu lembaga pendidikan musik, Ray belajar mandiri melalui sejumlah video dari social media dengan tekun mengasah bakatnya terus berkembang. Lingkungan keluarga Ray merupakan pecinta musik juga mendukung penuh kegiatan kariernya sebagai drummer.

MULTI TALENTA

Ketika terjun dalam dunia seni, membawa Ray masuk dalam industri intertainment dalam program televisi dan mulai bertemu dengan sejumlah musisi professional. Ia mulai mengubah karier bernyanyi menjadi seorang drummer professional. Selama merintis kariernya, keahlian bermain drum dan keseriusannya, membuat Ray dilirik oleh musisi senior lainnya. Terbukti, berkat keuletan Ray dan dukungan keluarga ia digandeng oleh sejumlah musisi papan atas, selain Ronald Steven (music director) Ray juga tergabung sebagai drummer Agnez Mo, Rossa, hingga Teddy Adhitya dalam setiap konser mereka.

Tidak dipungkiri, musisi ini paham akan talentanya, ia gigih mengembangkan bakatnya agar menjadi seorang musisi sejati. Meskipun di tengah kesibukan membagi tur antara konser Agnez Mo, Rossa, dan Teddy Adhitya, ia selalu menyempatkan diri melakukan sticking practice dalam setiap kesempatan. “Kita harus mendengarkan dan mempelajari semua genre musik. Apalagi sebagai session player kita harus bisa mengikuti seluruh jenis musik, termasuk mempelajari genre musik yang tidak kita sukai. Sebagai session drummer, kita juga wajib memperhatikan pengisian musisi lainnya (dalam band) agar tidak mengganggu permainan mereka,” ujar Ray membagi pengalamannya.

TOUR

Dalam rangkaian tur di seluruh wilayah Indonesia, beberapa kali terjadi kendala tidak sesuai riders dan instrument yang disiapkan di venue, khususnya di sejumlah kota kecil. “Saya sering mendapat head drum yang sudah jebol, terutama sering terjadi di venue luar kota. Saya berupaya meminta ganti set drum (cadangan) atau head. Namun kalau engga ada instrument drum pengganti, saya manfaatin yang ada. Contoh, jika mendapati tom tidak baik maka selama bermain saya tidak memukul tom itu.

Cuma agak berubah sedikit dari style yang biasa saya mainkan. Tetapi kalau mengiringi Agnez Mo (musisi atas lainnya), biasanya set drum yang disiapkan panitia biasanya aman,” ungkap Ray. Dalam setiap lawatan tur, Ray selalu membawa perlengkapan pribadi, seperti snare, set cymbal, pedal, dan stick sendiri. Jika konser di area Jakarta, Ray juga kerap menambah komponen drum sehingga set drum menjadi lebih lengkap dan membuatnya nyaman selama bermain. Ketika mengiringi konser Teddy Adhitya atau mengerjakan proyek rekaman Ronald Steven, Ray selalu menyiapkan sendiri set drum komplit Yamaha Live Custom. Baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 09 2018.

Download Majalah Audiopro di https://ebooks.gramedia.com/magazines/audiopro?page=1 atau beli langsung di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya.

Related Posts