• Kamis , 18 Oktober 2018

PILIH IN EAR ATAU FLOOR MONITOR?

MAJALAH AUDIOPRO, DALAM EDISI JANUARI 2002-NYA PERNAH MENURUNKAN BAHASAN TENTANG IN EAR MONITOR. ADA BEBERAPA HAL YANG DIGAMBARKAN DI ARTIKEL TERSEBUT, TERNYATA KINI MENGALAMI PERUBAHAN. KONSEP IEM TERNYATA CUKUP BANYAK MENGALAMI PERKEMBANGAN. BEBERAPA PERANGKAT IEM YANG DULU SERING KITA LIHAT DI PANGGUNG PANGGUNG, ERA SEKARANG SISTEM LEBIH SIMPLE DIGANTIKAN OLEH ALAT YANG SECARA KONSEP, LEBIH MAJU DAN PRAKTIS. BAGAIMANA RUPA IEM KINI, DAN APA PLUS MINUSNYA ? APA KELEBIHAN IN EAR MONITOR INI JIKA DIBANDINGKAN DENGAN FLOOR MONITOR?

In Ear Monitor adalah speaker in ear (seperti earphone) yang dilengkapi dengan sebuah alat pengirim sinyal (transmiter) dan receiver (penerima).  Transmitter system ini juga berfungsi sebagai amplifikasi untuk menambah power pada in-ear monitor. Transmitter juga berfungsi untuk mengirimkan suara dalam bentuk sinyal radio yang akan diterima oleh receiver yang terhubung ke in-ear monitor.

Transmitter system ini harus dibeli secara terpisah. Dengan In Ear Monitor (earphone ini)lah, musisi atau vokalis bisa mendengarkan vokal dan atau permainan musik sendiri dan juga keseluruhan band secara jelas dan tepat. Alat ini dipakai oleh musisi, sound engineer dan bahkan pehobi audio (audiophile atau music lover) untuk mendengarkan musik atau untuk mendengar campuran suara vokal dan instrumentasi panggung, baik untuk liveshow atau untuk pekerjaan mixing di studio rekaman. Meskipun ukurannya kecil, kemampuannya dalam meningkatkan kualitas audio hasil mixing dari sound engineer hingga ke telinga penyanyi (vokalis) dapat dirasakan perbedaannya oleh sang penyanyi di atas panggung.

Contoh system In ear Monitor yang wireless, lengkap dengan receiver dengan Q band merk  CAD. Didesain untuk aplikasi live performance seperti public speaking dan show music. Sistem ini menampilkan 16 channel frekuensi dengan tone code otomatis untuk mengeliminir interferensi RF.

Mengapa alat ini perlu dipasang (ditelinga sang artis)? Salah satunya adalah untuk memberikan kenyamanan dan menghindari suara yang tak diinginkan(dari lingkungan sekitar) masuk ke telinga. Memasang sistem ini pun sangat mudah. Pertama, hubungkan transmitter ke soundboard menggunakan kabel ¼ inci. Kemudian hubungkan in-ear monitor ke receiver pack yang dapat anda jepitkan di ikat pinggang, waistband atau dibagian mana saja yang nyaman buat anda.

Beberapa venue ada yang sudah dipasangi transmitter system siap pakai sehingga anda tidak perlu repot membawa sendiri. Tapi jika venue tidak menyediakan, jangan lupa untuk konsultasi terlebih dahulu dengan sound man yang akan bertugas untuk memastikan bahwa ia sudah terbiasa bekerja dengan in-ear monitor untuk menghindarkan resiko mixing suara yang salah di monitor anda. Lain brand dan tipe IEM, tentu berlainan juga kualitas suaranya.

Disini sebagai pengguna, kita dapat saja memilih jenis audio yang ringan dan jelas atau jenis audio dengan rentang frekuensi penuh termasuk tone yang dalam dan ngebass. Semakin besar rentang frekuensi yang anda inginkan akan semakin banyak jumlah driver yang harus diinstal pada in-ear monitor. Kian banyak driver, maka kemungkinan besar biaya pun akan lebih naik.

DULU DAN KINI

Sebelum membahas lebih dalam lagi tentang IEM, mari kita lihat dahulu, bagaimana jalur koneksi perangkat, mulai dari source(sumber bunyi) hingga ke reproduksi suara di IEM. Alat apa saja yang kini terbilang baru dan yang membedakannya dengan alat yang dipakai (saat artikel pertama tentang IEM ini ditulis di Audiopro). Coba anda lihat ilustrasi/Gambar 2A di bawah ini. Ini adalah ilustrasi yang ada di majalah Audiopro, edisi Januari 2002.

Ilustrasi skema koneksi di panggung dengan menggunakan in ear monitor, dimana masih memakai Junction Box.

Variasinya bisa saja lain, yakni seperti ini :

  • mic vokal -> splitter -> channel 1 mixer mon -> (aux 1) -> floor monitor vocalist
  • splitter -> junct box 1 -> snake -> chn 1 mixer FOH -> main L/R -> main speaker

Ilustrasi skema koneksi perangkat di panggung kini. Tidak lagi memakai Junction Box, melainkan Stage Box. Disini juga memanfaatkan sebuah laptop( kerjasama laptop dan IEM di panggung) (sumber : http://visionmusicministries.org)

Dua hal menarik bisa kita lihat di kedua gambar diatas. Pertama, tentang Junction Box. Ini adalah terminal(input-output), yang menerima masukan dari aneka sumber(dari instrumen musik maupun vocal ) lalu memberikan ke perangkat lain hingga akhirnya ke speaker (dalam hal ini : IEM). Sebagian orang percaya, alat ini dapat memberi juga tambahan kesan suara, sementara lainnya berpendapat tidak. Masukan dari piano, gitar dan alat musik lain, masuk ke Junction Box, lalu masuk mixer. Dari instrument musik ke box ini dengan memakai kabel analog.

Junction Box kini sudah tidak digunakan lagi, dan digantikan oleh alat bernama Stage Box yang sesungguhnya adalah sebuah konverter ADDA (dari awalnya yang analog, menjadi analog kembali yakni yang ke speaker). Stage box ini adalah panel konektor untuk menyebarkan sinyal audio.Kini mixer mixer bagus, punya stage box sendiri. Memiliki banyak kabel input, dan untuk outputnya hanya memakai satu kael, CAT5 (kabel LAN) yang menghubungkan stage box ke mixer.

Jadi apa bedanya Stage box dan Junction Box? Stage box itu converter. Tetapi junction box sifatnya hanyalah pasif. Menampung masukan. Sedangkan stage ox itu sifatny bisa aktif, yakni mengkonversi. Dia punya pre amp di dalamnya. Dengan demikian, mixer yang ada lebih berperan sebagai pengontrol(controller). Mixer dan stage box ini umumnya satu merk. Tetapi ada juga yang bisa multi, namanya Dante (ini adalah sebuah sistem, sama seperti midi). Converter ini bisa menerima masukan maksimal 16. Jadi bila skala kerja bertambah, cukup menambah stage box ini.

Yang berbeda lainnya, bila sebelumnya orang memakai floor monitor yang berfungsi sebagai sumber suara yang didengar musisi atau sang vokalis sehingga bisa mendengar permainan instrumennya atau vokalnya sendiri secara lebih jelas – kini juga ada IEM (In Ear Monitor) tadi. Ada juga panggung yang memakai keduanya. Inilah cara agar sang penyaji juga bisa mendengar instrument lain yang tidak dimainkannya dan atau vocal.Info lanjut mengenai, Mengapa Perlu IEM ? , PLUS MINUS dan Tips membeli IEM. Baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 07 2018. Atau download Majalah Audiopro di https://ebooks.gramedia.com/magazines/audiopro?page=2 atau beli langsung di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya.

Related Posts