• Rabu , 19 Desember 2018

“TEMAN BARU” GINDA

MENCUAT DENGAN TRIO GINDA & WHITE FLOWERS BEBERAPA TAHUN LALU, GINDA BESTARI MASIH EKSIS. SEJAK BAND TERSEBUT MEMUTUSKAN BUBAR (2013) GINDAPUN SEOLAH MEMULAI KEMBALI PERJALANAN BERMUSIKNYA. MENGIKUTI HATI, BEKERJA SAMA DENGAN BANYAK MUSISI DAN TENTU SAJA MENDAPAT PASANGAN BARU GITAR YANG SERASI.

 

Muncul dengan solo album Soulful Desire (2015), Ginda sudah menandai kiprah bermusiknya dengan karya yang bebas ia buat semaunya. Berbeda dengan saat ngeband, ia harus menyesuaikan bermusik dengan karakter player nya. Di proyek solo, adalah kebalikannya. Ia leluasa memilih musisi hebat yang bakal mendukung album solo perdananya itu. Tersebutlah  Harry Anggoman (piano-organ), Yance Manusama (bass) dan Rayendra Sunito (drum).

Album berisikan 10 lagu tersebut amat berkesan buat Ginda, bukan saja direkam secara live, album tersebut cukup terkemas (kecuali vokal dan brass) dalam waktu 3 hari,” Saat itu dikerjakan live dengan suasana santai di Bandung,” ujar Ginda saat di temui di hotel Fairmount beberapa waktu yang lalu.  Album itu adalah Ginda yang semakin dewasa, berbeda dengan band sebelumnyanya yang kental dengan blues, funk dan rock, Ginda mengemas Soulful Desire dengan lebih smooth, “ Dulu lebih agresif, lebih darah muda..” kelakar Ginda yang mengaku bahwa secara karakter, permainannya tidak banyak berubah hanya nuansanya saja yang lebih smooth.

WARISAN BERMUSIK

Sophisticated! Demikian Ginda menyebut style permainan gitarnya. Tak dipungkiri, dasar permainan gitarnya adalah blues. Namun jika membicarakan style,  Ginda mengungkapkan banyak unsur yang mempengaruhi sebuah karakter termasuk dari segi permainan dan sound. Dalam perjalanan karirnya, ia kerap bertanya apakah karakter itu dilahirkan secara sengaja, takdir atau terbentuk dengan sendirinya? Pertanyaan itu muncul kala ia banyak melihat gitaris –gitaris blues yang arah bermainnya sama saja, misalkan ter-influence oleh Jimi Hendrix atau Steve Ray Vaughan. Kenapa arahnya kesana semua? Cerita Ginda.

Akhirnya Ginda mengdentifikasikan stylenya sendiri,” Ibarat teko, dimasukin berbagai macam cairan jadi sesuatu yang nge-bland..” Ginda berfilosofi seperti itulah style bermusiknya, “ Memang harus diniatin dulu bagaimana caranya otentik..” tuturnya. Menurutnya ia bermain musik tak hanya untuk memuaskan diri sendiri, tapi yang ada di benaknya bagaimana ia bisa mewariskan musik untuk generasi yang akan datang,” Buat yang sekarang-sekarang ini sedang belajar gitar..” tambah nya, berkaca pada dirinya yang awalnya gemar mengulik lagu dari dari beberapa gitaris, ketika disatukan jadilah permainan gitarnya saat ini.

MIDNIGHT RIDE

Masih berpondasikan blues, di project terdekat Ginda akan mengkolaborasikan aliran musik itu dengan genre rock n roll. Berbeda dengan album Soulful Desire, single ini akan terdengar lebih keras, “ Ini pertama kalinya main keras..” tutur Ginda yang memang mengawali karirnya sebagai session player ini( khususnya treking gitar di studio). Bukan hal yang sulit bagi Ginda untuk menyelam di kolam baru genre musik, sebab menurutnya pengalaman sebagai session player kadang  membuatnya mesti  menomorduakan stylenya sendiri. Download Majalah Audiopro edisi 07 2018 di aplikasi Gramedia Digital (playstore/appstore) atau beli langsung aja di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya. *Dini

Related Posts