• Jumat , 17 Agustus 2018

TAMARA AISYAH SAYIDINA MUSIK HADIRKAN RASA DAN KENYAMANAN

INSTRUMENT INI PEMAINNYA LEBIH DIDOMINASI OLEH KAUM LELAKI, ITU YANG MEMBUAT SAYA TERTANTANG UNTUK BELAJAR TENTANG CONTRABASS

Mengaku memilih instrument contrabass dalam bermusik atas anjuran dosen di kampusnya, wanita yang akrab disapa Tamara ini membeberkan ketertarikan dirinya dengan contrabass.. Ditemui pada suatu acara di Kota Bandung, Gadis yang piawai bermain gitar, piano bahkan vokalis dan juga Juara 3 Hijab Hunt 2017 ini menuturkan ceritanya untuk Majalah Audiopro.

TERTANTANG

Contrabass diciptakan pertama kali karena tanpa adanya suara bass dalam suatu lagu. Dan contrabass diciptakan untuk mengisi kekosongan tersebut, dan hal ini terus menerus berlanjut sampai adanya gitar bass yang merupakan pengganti peran contrabass dalam sebuah band. Dengan bentuk yang besar dibanding dengan instrument lain, pemain contrabass kadang menyita perhatian terlebih dahulu dibanding dengan pemain lain ketika dipanggung. Namun bukan karena ingin menyita perhatian dari penonton, Tamara yang pada awalnya mempelajari instrument cello sebagai mata kuliah wajib di Universitas Pendidikan Indonesia justru malah mempelajari instrument contrabass setelah mendapat anjuran dari sang dosen.

“Cello adalah instrument yang saya ingin pelajari, tapi entah kenapa saya merasa sulit bahkan tidak mendapat chemistry sama sekali di instrument cello setelah belajar selama satu bulan, akhirnya atas anjuran dosen, saya ganti untuk belajar instrument contrabass,” jelasnya ketika ditanya alasan kenapa akhirnya memilih instrument contrabass. Kesan pertama ketika mempelajari contrabass menurutnya ia merasa aneh dan ternyata tidak mudah juga belajar tekniknya. Tapi ia membatin dalam hati kalau contrabass mempunyai suara yang khas dan sebagai wanita ia jadi tertantang untuk giat berlatih, karena pada umumnya kebanyakan kaum lelaki yang mempelajari alat musik ini. “Lama kelamaan saya tertarik ketika mendengar suaranya, ada yang spesial dari contrabass, dan ternyata selain orang jarang belajar contrabass, ternyata alat ini pemainnya lebih didominasi oleh kaum lelaki, itu yang membuat saya tertantang untuk belajar tentang contrabass” tuturnya bersemangat.

TAK MENGANDALKAN MEREK

Ukuran contrabass bisa mencapai tinggi manusia dewasa (ukuran 4/4), dimainkan dengan dua teknik yaitu pizzicato (petik) dan arco (gesek). Contrabass merupakan keluarga biola yang berukuran besar dalam suatu orchestra dan mempunyai nada terendah dibandingkan anggota keluarga biola lainnya. “Memang riweuh (repot) ketika memiliki contrabass dan itu harus dibawa kemana-mana baik untuk latihan apalagi manggung, tapi sebagai pemain contrabass adalah wajib memiliki instrumen ini agar pemain bisa serius dan fokus dalam mempelajari contrabass,” terangnya ketika ditanya tentang haruskah pemain contrabass mempunyai instrument ini. Lebih lanjut ia menambahkan, memang contrabass termasuk alat yang mahal dalam hal harga, sebut saja contrabass merek Roth, Gaspar Da Salo dan Arcket, tapi untuk sekarang sudah banyak produk-produk contrabass yang dijual dengan harga terjangkau.

“Kebanyakan pemain contrabass itu memilih merk buatan Eropa karena karna kualitas kayu dan suara yang dihasilkan nya lebih bagus. Tapi setahu saya pemain contrabass di Indonesia kebanyakan memakai Hofner rakitan China, contrabass yang saya punya sekarang buatan China (tidak menyebut merek), murah tapi kualitasnya bagus juga kok,” ujar gadis yang juga Ketua Orkestra Himpunan Mahasiswa Seni Musik UPI ini. Tapi ia buru-buru menambahkan jika beberapa part contrabass nya itu sudah ada yang diganti untuk lebih mengejar suara yang diinginkannya.

“Saya lebih suka custom dan mensetting alat musik tersebut, banyak sekali perangkat yang saya ganti. Sehingga saya memilih yang tidak terlalu mahal dan bermerk, karena merk tidak menjamin kenyamanan saya dalam bermain,” jelas gadis kelahiran 7 Juni 1997 ini. Buatnya, yang paling utama (dalam bermusik) adalah kenyamanan dalam bermain alat musik tersebut, musik bukan tentang harga dan merk tetapi tentang rasa dan kenyamanan saat menyampaikan musik dari instrument tersebut. * Farid Syamsuri

Download Majalah Audiopro edisi 05 2018 di aplikasi GRAMEDIA DIGITAL (playstore/appstore) atau langsung beli di TB Gramedia Indonesia untuk baca selengkapnya ya.

Related Posts