• Jumat , 19 Oktober 2018

PERFORMA MAKSIMAL EUROPE DI BOYOLALI

Setelah 28 tahun, Europe kembali datang ke Indonesia. 20 lagu, yang baru maupun lama, yang hits maupun tidak, mereka geber.

Diboyong oleh promotor BoyolaliSatu, Europe unjuk kemampuan di Stadion Pandan arang, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sebagai bagian dari Volcano Rock Festival. Kemampuan yang boleh dikatakan tidak turun, meski selisih 28 tahun dari penampilan mereka pada 1990 di Jakarta dan Surabaya. Tetap full of spirit, teknik maksimal dan humble. Dengan rataan usia 54 tahun, personil Europe menunjukkan penampilan yang tak beda ketika mereka muda dulu.

Vokalis Joey Tempest sebagai frontman tetap mampu mendaki nada-nada tinggi sambil terus bergoyang dan berlari. Memang, ketika nada rendah, suaranya menjadi serak. Tapi itu bisa dimaklumi, karena sehari sebelumnya di kantor Bupati Boyolali dia mengakui, udara Indonesia sangat panas. “Indonesia, tepatnya Boyolali merupakan kota satu-satunya di Asia yang kami datangi dalam rangkaian tour Walk on Earth. Udaranya sangat panas dari pada yang saya ingat 28 tahun lalu,” ungkap Joey Tempest sambil terkekeh.

Sabtu Malam (12/5), sekitar 15 ribu pasang mata menjadi saksi, betapa kegigihan kelima pria Swedia itu, mengusung musik hard rock patut diapresiasi. Walk on Earth dan The Siege menjadi dua lagu pembuka, sekaligus memperkenalkan album terbaru mereka yang lebih heavy berkat permainan rapat gitaris John Norum. Penonton tampak ‘adem’ karena memang kedua lagu itu kurang populer di telinga. Sempalan bagian lagu ‘Aint Talkin’ ‘Bout Love milik Van Halen pun, tak terlalu berpengaruh.

Begitu lagu ketiga, Rock The Night dinyanyikan, udara malam pun menjadi hangat. Penonton turut bernyanyi. Joey pun mulai berkomunikasi dengan penonton. “Matur Suwun,” begitu teriaknya. Lagu bertempo cepat Scream of Anger menjadi pilihan berikut diikuti Danger on The Track. Suasana semakin seru dan penonton kian memahami Europe. Bahwa band yang mereka kenal dulu tetap sama. Tembang baru, bukan ganjalan.

Tensi yang sudah meningkat, coba diturunkan dengan penampilan solo John Norum. Lewat Vasastan, Norum seperti ingin menunjukkan bahwa dialah gitaris sejati Europe. Fans Europe pasti tahu, setelah kesuksesan album The Final Countdown (1986), Norum Hengkang dan memilih jalan solo. Posisinya digantikan Kee Marcelo, yang menghasilkan dua album; Out This World (1988) dan Prisoner of Paradise (1991).

Lagu-lagu dari kedua album tersebut turut dibawakan, tapi tak banyak dan tentunya dengan sound gitar John Norum. Ready or Not dan Prisoner of Paradise, setidaknya membuat penonton kian akrab. Harus diakui, walau Europe masih produktif berkarya mengeluarkan album baru, penggemar di Indonesia lebih memahami mereka hingga album sebelum mereka rehat lama pada 1992. Tapi itu tak jadi soal ketika Carrie dinyanyikan. Satu stadion turut bernyanyi karena tembang slow itu merupakan lagu terpopuler kedua Europe.

Europe bukan hanya Tempest dan Norum. Tiga personil lainnya; Ian Haughland (drum), Mic Michaeli (keyboard) dan John Leven (bass) bukan pelengkap penderita. Hal itu dibuktikan Haughland ketika unjuk kemampuan solo dengan memainkan drum diiringi simfoni klasik karya Giochino Rossini, William Tell Overture Finale. Orang Indonesia mengenalnya sebagai soundtrack Lone Ranger.

Setelah solo drums itu, Europe menghadirkan empat lagu yang untungnya dikenal publik Boyolali: Stormwind, Prisoners of Paradise, Cherokee dan tentunya The Final Countdown. Lagu terakhir yang begitu dinanti membuat stadion ‘pecah’. Joey Tempest pun memberikan ruang lebih. Sepertinya dia memahami bahwa Europe di mata penonton Indonesia adalah lagu yang dulu, bukan karya terbaru. Kembali berterima kasih, Tempest dkk mengakhiri konser hampir 2 jam itu seperti halnya band kekinian, berselfie di atas panggung

Sound Super DAS Audio

Performa maksi Europe tak luput dari dukungan sound system yang digunakan malam itu. Sound yang super membuat menontonnya seperti mendapat sebuah penghargaan. Sound dengan kekuatan 120 KW, tetap nyaman di telinga, serangkaian instrumen yang dimainkan terproduksi sempurna dengan gain yang pas dan balancing yang hebat. Malam itu stadion Pandan Arang menjadi saksi kehebatan anak bangsa dalam mempersembahkan sebuah konser live sebuah band legend. DSS Sound System adalah doktornya. Mengatur genset berkekuatan 200 KW, melahirkan reproduksi sound berkualitas, tetap berasa emosional dan tentu saja membanggakan. *Dini.

Berikut komposisi speaker yang digunakan:

  • DAS Audio Aero 50  16/side
  • DAS Audio SUB LX218A 12/side
  • DAS Audio Aero 38 outfill  4/side
  • DAS Audio Aero 12A side fill  4/side
  • DAS Audio SUB LX218A Side fill 2/side
  • DAS Audio Aero 12A center fill 4 unit
  • DAS Audio Road 15A monitor 18 unit.

Related Posts