• Senin , 18 Juni 2018

PANDANGAN DISTRIBUTOR INSTRUMEN MUSIK DAN PROAUDIO TENTANG KONFERENSI MUSIK INDONESIA HENDRY KAIHATU

PADA AWAL MARET 2018 LALU, PARA MUSISI SENIOR DAN MUDA, PENGAMAT MUSIK, PEMERHATI MUSIK SAMPAI KEPADA SENIMAN DAN BUDAYAWAN YANG TERBENTUK DALAM KONFERENSI MUSIK INDONESIA (KAMI) YANG DIGAGAS DAN DIKETUAI OLEH GLENN FREDLY YANG DIDAHULUKAN DENGAN RANGKAIAN TALKSHOW MENUJU EVENT PUNCAKNYA DI TAMAN BUDAYA, AMBON, MALUKU YANG BERTEMA ‘RAYA NADA UNTUK INDONESIA’ .

 

Agenda Konferensi Musik Indonesia, membicarakan seputar kemajuan industri musik melibatkan pelaku musik dan pemerintah. Kegiatan KAMI di Ambon menjadi wadah pelaku industri musik berdiskusi dengan pemerintah yang menciptakan suatu pembaharuan ekosistem musik yang lebih terarah dan terkelola lebih baik. Beberapa poin yang diangkat di antaranya masalah hak musisi, royalti (konvesional dan digital), karaoke online, hingga pembahasan penghasilan tambahan bagi musisi, penyanyi, atau pencipta di luar royalti secara adil dan transparan.

Bagian ekosistem musik, selain pencipta lagu, penyanyi, musisi, serta aranjer musik , termasuk pelaku industri musik dari pihak swasta. Salah satunya adalah dari  distributor tunggal instrumen musik dan pro audio,yaitu  PT. MMC (Mutiara Musik Cakrawala), Hendry Kaihatu sendiri juga adalah salah satu Dewan Pengurus Pusat Persatuan Artis, Penyanyi, dan Pemusik Indonesia masa bakti 2018 – 2023 ( DPP PAPPRI) yang juga hadir dalam Konferensi Musik Indonesia di Ambon pada tanggal 7 hingga 9 Maret 2018 .

Hendry memberikan penjelasan bahwa beberapa program yang diangkat dalam KAMI antara lain kesejahteraan musikus (pencipta lagu, penyanyi, musisi) dan pembenahan royalti (jalur digital dan konvensional) sangat memandang positif KAMI yang dihadiri oleh Mentri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, di Ambon, “Acara KAMI di Ambon yang digagas Glenn Fredly adalah suatu trigger awal dan positif memperjuangkan undang-undang musik Indonesia. Tugas besar konferensi itu adalah meyakinkan pemerintah melalui DPR komisi sepuluh untuk menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia harus punya undang-undang permusikan. Karena industri musik turut memberikan kontribusi PDB yang cukup besar. ”

Hendry menambahkan,”Hadirnya menteri Keuangan dalam acara KAMI adalah sesuatu hal yang baik. Memang benar, Menteri Keuangan dapat mendorong (industri musik Indonesia) supaya nanti kalau ke 12 butir rekomendasi hasil konferebsi bisa diterima (visi KAMI diterima pemerintah pusat) diharapkan ada anggaran yang ikut membiayai industri musik dari sisi pemerintah. Sehingga kami (pihak swasta, distributor/penyedia produk musik) melihat bahwa penyedia barang otomatis bisa mendapat pasar yang baru karena dibuka oleh regulasi pemerintah.

Contoh dalam acara KAMI, dari kementrian pendidikan menginstrusikan kepada dirjen kebudayaan dan diturunkan lagi ke bawah sehingga tercipta instruksi berjenjang maka hal ini dapat melahirkan suatu pegadaan barang baik alat-alat musik moderen, tradisional, sound system maupun marching band ke sekolah tingkat menengah dan tingkat atas. ” Hendry mendeterminasi bahwa hasil KAMI bulan Maret 2018 adalah entitas yang sangat baik karena pada akhirnya bisa menghasilkan outcome betupa perputaran roda ekonomi di suatu daerah.

“Apalagi kota Ambon sudah mendeklarasikan menjadi kota Musik jadi harus dibangun infrastruktur. Bagaimana kalau tidak ada regulasi dari pusat turun ke daerah? kemudian yang paling berkompetensi adalah dinas pendidikan untuk menginstrusikan kepada para kepala sekolah baik SMP maupun SMA untuk melakukan pengajuan pemesanan barang dan jasa. Ketika pengadaan itu (produk instrumen dan sound system) diadadakan oleh regulasi pemerintah maka pasar akan terbuka. Perrputaran barang melalui Dealer insrumen dan sound system di daerah akan lebih hidup. Sehingga saya melihat seperti mata rantai yang saling berhubungan seperti yang disebut Glenn adalah ekosistem musik.

Peran serta media bagi pelaku distributor instrumen musik dan pro audio masih memberikan kontribusi yang baik dalam sebuah ekosistem musik. “Peran media menurut saya masih signifikan walaupun sudah banyak media digital. Tetapi media konvensioanal belum tergantikan menurut saya kontribusinya masih ada, khususnya adalah radio dan televisi,” ujar Hendry Kaihatu yang hadir dalam industri perdangan musik dan sound system sudah belasan tahun menutup wawancara dengan tim Apro. *Fajar Arianto.

Related Posts