• Rabu , 23 Mei 2018

MOCOSIK FESTIVAL 2018: PERTEMUAN KULTUR SUNYI DAN BUNYI

Jika sunyi mewakili buku, dan bunyi mewakili musik, ketika bersanding jadilah sebuah energi unik, Kebijaksanaan dan kegembiraan hidup yang bergumul menjadi satu.

BRI Mocosic Festival 2018, yang berlangsung akhir pekan lalu membawa romansa tersebut.  Ringkasan dari kata ‘moco’ dalam bahasa jawa berarti ‘ baca’ dan ‘Sik’ yang mengartikan ‘Musik’, mengartikan jika event tahunan ini memang diperuntukan untuk pecinta keduanya. “ Mocosik itu membaca buku dalam acara musik yang asik. Kami merangkul dua dunia dengan pelakunya masing-masing. Ratusan penerbit dan penggiat buku diundang dalam bazar buku dan percakapan literasi di panggung buku. Sementara itu,  di panggung musik, kami hadirkan musisi-musisi papan atas , baik group maupun solo,” kata  Founder Mocosik Festival, Anas Syahrul Alimi.

Berlangsung selama tiga hari di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta, BRI Mocosik Festival  membagi lahannya dengan luasan yang sama antara buku dan musik. Untuk segmen buku, tersedia bazaar, pameran poster, dialog/talkshow. Pengunjung dapat menukarkan tiket masuk seharga Rp 75.000 dengan buku pilihannya, “ Jadi beli tiket nonton musik dapat buku, Silahkan pilih mana yang Anda suka,’ ujar Project Director Mocosik, Bakkar Wibowo.

AKUSTIK

Mewakili kultur bunyi yang ‘ kalem’, musik dipadukan dengan puisi, istilah kerennya musikalisasi puisi. Reda Gaudiamo yang biasa duet dengan Ari Malibu, kali ini berpasangan dengan Jubing Kristianto. Bertempat di ruang pameran poster, penampilan keduanya cukup apik menyampaikan syair-syair puitis Sapardi Djoko Damono, Emha Ainun Najib, Abdul Hadi WM dan Gunawan Mohammad melalui irama-irama lagu dengan ilustrasi musik yang sederhana melalui petikan jemari Jubing. Duet Reda-Jubing sanggup membuat generasi muda yang kebanyakan hadir menikmati puisi dengan cara berbeda. Sesungguhnya disinilah benang merah antara si sunyi dan si bunyi, memahami makna puisi melalui nada.

PANGGUNG LIVE

Kultur bunyi yang lebih complicated, mewakili keriangan , kegembiraan  dan kekinian. Terbukti sejak hari pertama digelar, panggung musik tak pernah sepi pengunjung. Penonton ikut bernyanyi sambil mengacungkan buku yang mereka beli, bukanlah pemandangan yang tidak biasa. Beramai-ramai memasyarakatan buku bersanding musik sesuai tagline besar BRI Mocosik kali ini”Merayakan Musik dan Buku”.

Hari pertama panggung musik dimeriahkan oleh Letto, Rio Febrian dan ditutup dengan penampilan luar biasa Kahitna. Sedangkan hari kedua hadir Ten to Five, Tompi dan Tulus. Kemunculan perdana Ten to Five sejak beberapa tahun vakum menjadi daya tarik tersendiri bagi pecintanya. Bertepatan  dengan hari Kartini, Ten to Five tampil dengan menggunakan baju daerah, di kesempatan yang sama juga Imel sang vokalis mengumumkan bahwa  bandnya tersebut secara resmi kembali lagi ke industri musik tanah air. Sebelumnya tersisa hanya Imel, Ten to Five sekarang beranggotakan  Vito (keyboard), Thomas (drum) dan Ari (gitar)  sementara untuk bass tetap menggunakan aditional.  Ten to Five menanyikan sekitar 7 buah lagu, termasuk memanaskan kembali hits mereka ‘I Will Fly’ dan sebuah lagu daerah yang dinyanyikan cukup apik  oleh Imel,’Lir-Ilir’

Tompi membuka penampilannya dari belakang panggung , menyanyikan lagu legend ’Naik Kereta Api’ hanya dengan iringan sebuah gitar akustik.  Suara Tompi yang khas langsung membuat histeris seketika penonton yang hadir, meskipun sang idola belum juga naik panggung. Selanjutnya penyanyi yang juga seorang dokter bedah plastik itu menuntaskan histeria penggemarnya dengan lagu-lagu hitsnya seperti ‘Belahan Jiwa’, ‘Setengah Hati’ dan ‘Selalu Denganmu’.

Panggung musik hari ketiga BRI Mocosik festival, adalah yang paling fenomenal. Bagaimana tidak di hari yang akan menghadirkan penampilan Sirkus Barock, Glenn Fredly dan Slank itu sudah mendapat atensi ekstra yakni para slanker yang sudah memadati sekitar area JEC sejak hari pertama festival berlangsung.

Slank sebagai puncak acara menggeber panggung lewat lagu ‘I Miss You But I Hate You’  yang dilanjutkan dengan ‘Gara-Gara Kamu’. Setelahnya dari gitar Ridho, berkumandang intro lagu ‘Virus’ yang langsung disambut hangat oleh para Slanker yang  seketika ikut bernanyi.  Untuk menambah semangat yang datang. Kaka kemudia menyanyikan lagu ‘Mars Slanker’ dilanjutkan dengan “Garuda Pancasila’ dan ‘Samber Gledek’.

Bimbim yang sedari tadi anteng di balik drum, mengambil alih mic dan menyanyikan lagu ‘Indonesiakan Una’ diiringi petikan gitar akustik Ridho. Selanjutnya Kaka kembali mengambil kemudi dan menyanyikan lagu-lagu, ‘Terlalu Manis’, ‘Terlalu Pahit’ , ‘Pandangan Pertama’, ‘Orkes Sakit Hati’, ‘Tong Kosong’, ‘Ku Tak Bisa’, ‘Pala lo Peyank’ dan ditutup dengan lagu ‘Kamu Harus Pulang’.

Malam itu Mocosik Festival 2018 selesai sudah, menyisakan kepulangan para Slanker ke kota masing-masing dengan raut puas di wajahnya. Bahkan beberapa tertangkap sedang memegang buku. Nampaknya Mocosik benar-benar berhasil menaruh roh buku dan musik dalam satu raga. *Dini

Related Posts