• Minggu , 24 Juni 2018

ROAD TO KONFERENSI MUSIK INDONESIA 2018 : DISKUSI MUSIK DALAM PEMAJUAN KEBUDAYAAN

DI TENGAH ERA GLOBALISASI DAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI YANG SANGAT PESAT, BUDAYA SEBUAH BANGSA (DAERAH) BISA SAJA TERGERUS, JIKA TIDAK ADA TINDAKAN NYATA DARI PELAKUNYA DALAM SEBUAH EKOSISTEM YANG TENTUNYA MELIBATKAN BANYAK PIHAK UNTUK MEMPERTAHANKAN DAN MENGEMBANGKAN SEBUAH BUDAYA.

 

Berawal dari pemikiran itulah, maka dilakukan sebuah diskusi tentang musik yang dikaitkan dengan pemajuan sebuah daerah.Mengapa musik? Karena musik merupakan bagian dari sebuah budaya, dan dunia musik pula yang belakangan ini menggeliat menuju kelas kreativitas yang semakin tinggi termasuk posisi kelegalitasannya di tatanan sebuah bangsa. Diskusi ini juga merupakan rangkaian kegiatan menuju Konferensi Musik Indonesia 2018, yang akan berlangsung  di Ambon pada bulan Maret nanti.

Digelar dalam suasana outdoor di Margo City Mall, Depok, Diskusi sore hari (19/2)  mendatangkan beberapa narasumber dari beberapa kalangan yakni: Fajar Arianto (Pemred AudioPro), Doddy Katamsi (Musisi), Havez Gumay (Koalisi Seni Indonesia), Ikravany Hilman (penikmat musik) dan Stanley Tulung (Pengamat Musik) . Dipandu oleh Buddy Ace dan Glenn Fredly, acara yang diprakasai oleh Poelang Kampoeng Production bekerja sama dengan Musik Bagus ini juga kedatangan tamu istimewa dari Dispora Pemrov Depok dan Ketua DPRD kota Depok.

Depok memang menjadi tema spesial kali ini, skala kecil yang coba diangkat komunitas bermusiknya. Bukan tanpa sebab, di kota ini sesak dengan kampus yang  sudah pasti tempat berkumpulnya mahasiswa dari berlatar ragam budaya. Disatu sisi dapat menambah keragaman buaya, disisi lain dapat menggerus budaya yang sudah ada. Namun tak dipungkiri, saat ini kota inilah menjadi ajang festival musik jazz terbesar di Asia setiap tahunnya, ‘Jazz Goes to Campus’, “ Depok merupakan tempat yang heterogen, jangan sampai budaya lokal kalah pamor’ ujar Doddy Katamsi yang sedang berupaya menggeliatkan kembali musik rock di daerah bersimbol belimbing tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh Stanley Tulung yang dalam diskusi ini menekankan bahwa harus ada rasa bangga bagi warganya sendiri, dan kebanggaan tersebut harus diawali oleh ilmu pengetahuan, karena tak kenal maka tak sayang.

Ilmu pengetahuan juga menjadi tren yang tak kalah penting dalam dunia musik saat ini. Isu digital dan recording rumahan menjadi cara baru bagi para musisi muda untuk lebih bebas berkarya, “ Zaman sekarang recording bisa dilakukan di dalam kamar sekalipun”  kata Fajar Arianto menyikapi cara bermusisik musisi muda sekarang yang semakin dipermudah oleh teknologi dan zaman. Mencontohkan betapa ‘mulia’nya kanal YouTube sebagai sarana ‘pamer’ kebisaaan musisi memainkan instrumentnya.

Cara-cara tersebut bisa juga dilakukann untuk mengenalkan musik-musik tradisional . Tanpa teknologi dan ilmu pengetahuan, musikpun bahkan susah berkembang, baik dari sisi kreatifitas, inovasi dan penjualan. Musisi berkarya dan sebagian hidup dari karyanya, di era sekarang bahkan ada perusahaan streaming musik berpemasukan 200 juta USD perbulannya, sebuah kolaborasi yang manis tentunya untuk musik dan teknologi.

LEGALITAS MUSIK

Mempertahankan sebuah budaya menjadi relevan di masa depan menjadi tantangan tersendiri bagi para pelakunya. Termasuk yang paling intens menanganinya adalah dri Koalisi Seni Indonesia. Havez Gumay, mewakili lembaga yang mendorong terwujudnya ekosistem kesenian di Indonesia ini menjelaskan keberadaan UU RI no. 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, bagi pelaku seni di tanah air. Karena dengan adanya Undang-Undang tersebut, para pelaku seni terhubung. Menurutnya kemajuan berbudaya dimulai dari kerendahan hati dan harus tau posisi kita hari ini,” Sehingga kita tahu apa yang harus kita lindungi supaya bisa dikembangkan,” demikian Havez. Glenn sendiri menyoroti kepentinganUndang-Undang tersebut menjadi sebagai acuan networking para pekerja seni ke pemerintah. Menjadi kan musik sebagai bagian dari sektor riil yang melibatkan  inovasi, lapangan pekerjaan dan pendidikan. Sebab ada 3 aspek tujuan dari memajukan sebuah kebudayaan, yakni: Aspek pendidikan , menuju ketahanan budaya dan menuju ekonomi kreatif, yang menurut Glenn, serapannya dari sektor ini masih rendah sekali.

Acara berdurasi kurang lebih 3  jam ini juga memberikan kesempatan bagi para peserta diskusi untuk memberi tanggapannya. Salah satunya adalah dari Institut Musik Jalanan  yang meminta agar komunitasnya lebih sedikit diberi kebebasan berkarya dan tampil, mengingat banyak tempat-tempat yang menjadi terlarang bagi mereka, selain ada masukan dari seorang pendidik yang menginginkan banyaknya kegiatan edukasi bermusik dilakukan di tempat tempat umum. Penggagas acara, Ciko dari Poelang Kampoeng Production mengatakan bahwa dengan  diskusi singkat tadi telah ada titik temu antar pelaku di ekosistem bermusik dengan sektor private dan Pemrov Depok,” Semoga dengan komunikasi yang bagus, kerja sama dapat terjalin terus, kita semua saling mengingatkan” tutup Ciko seusai acara. *Dini

Related Posts