• Sabtu , 16 Desember 2017

JOSEPH MANURUNG MEMENUHI PROFESI SOUND ENGINEER DARI BAND

JOSEPH MANURUNG, SEORANG SOUND ENGINEER KELAHIRAN 9 NOVEMBER 1973. KINI MEMANTAPKAN KARIERNYA SEBAGAI ENGINEER DI BIDANG LIVE SOUND DAN RECORDING. PRIA YANG LAHIR DAN DIBESARKAN DI PURWOKERTO INI TELAH MENEMPUH PERJALANAN PANJANG SEBAGAI PROFESSIONAL SOUND ENGINEER DIAWALAI DARI KARIER BAND SEBAGAI GITARIS

 

Joseph Manurung, lebih dikenal dengan Joseph atau JM, aktif sebagai live sound dan recording engineer. Ketika ditemui di studio Chandracom, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Joseph menceritakan pengalamannya yang menjalani dua bidang sebagai live sound dan recording engineer di sekitar tahun 90’an. “Sebenarnya dari awal saya menjalankan kegiatan menangani live sound dan rekaman. Saat itu, sistem (audio) belum sebagus sekarang. Dahulu (ketika masih menjalani live sound enginer), loudspeaker (PA System) di daerah mereknya macem-macem dan masih banyak custom spaker dan sistem yang belum baik membuat saya lama-lama lelah. Akhirnya saya putuskan bekerja sebagai recording engineer sekitar tahun 2000. Sebelum tahun 2000 saya menjalani dua dunia studio dan live sound,” ujar Joseph. Ia menjelaskan bahwa dunia rekaman dan live sound sangat berbeda namun memiliki prinsip teknik yang sama.

”Masing-masing memiliki dunia yang berbeda tapi tekniknya sama. Kalau di dunia studio rekaman, lingkungannya bisa terkontrol seperti tata akustik yang sudah ada atau penempatan posisi speaker kita sudah ketahui. Tetapi kalau live osund, lingkungan sekitar tidak bisa kita kendalikan. Contoh sederhana, pada saat sound check udara sangat panas dan ketika perfom kondisi udara menjadi sangat dingin. Masih banyak masalah yang terjadi di lapangan sewaktu-waktu, seperti kabel rusak dan lain-lain. Jadi memang kita tidak bisa mengontrol keadaan dalam dunia live sound. Di live sound kita harus serba cepat (berpikir dan ambil keputusan). Ibarat kita mixing album rekaman hanya dikerjakan dalam durasi 2 jam. Artinya, kita mixing album yang rencananya akan didengar selama-lamanya. Cuma kalau live sound, hanya hari itu saja kita mixing untuk didengar (audiens) dan tidak ada revisi,” ungkapnya sambil tertawa.

SUKA AUDIO SEJAK KECIL

Ketertarikan dengan elektronik yang terkait dengan audio dirasakan saat masih duduk di sekolah dasar. Bahkan ia belajar privat dengan seorang ahli elektronik di dekat tinggalnya di Purwokerto untuk meredam rasa penasaran mengetahui komponen-komponen elektronik dari perangkat tape deck saat itu. Pengetahuan audio sudah akrab dari kecil karena dalam lingkungan keluarga juga berbisnis sound system yang turut mempengaruhinya mencintai dunia audio. Melanjut sekolah menengah pertama dan atas, ia menekuni ekstrakurikuler pelajaran elektronik. Saat remaja, tak lantas Joseph menekuni dunia elektronik, Joseph ia sibuk bermain band dari SMA hingga kuliah diploma ekonomi di Universitas Soedirman di Purwokerto hingga dewasa. Saat kuliah Joseph aktif dalam sebuah band reguler sebagai gitaris. Bermain band membuatnya ia hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan bakatnya sebagai musisi. Seiring waktu berjalan, karier di Jakarta menjadi seorang gitaris terus berkembang. Bersama band-nya ia kerap mengiringi banyak musisi besar dan masuk ke dalam lingkungan musisi profesional. Mulailah karierya berjalan mulus, sekitar tahun 90’an ia sudah banyak mengenal artis-artis besar dan manggung di venue-venue besar di Indonesia.

MENCOBA MIXING

Selama menjalani band pengiring, ia memperhatikan belum banyak band memiliki sound man internal. “Pengalaman kami banyak mengiringi artis-artis besar bahwa waktu itu belum banyak band memiliki audio engineer sendiri. Pengalaman kami, selalu sound-nya jelek di lagu-lagu awal. Mulai saat itu, saya coba putuskan mixing dari FOH. Bahkan saat itu saya belum ngerti monitor panggung penting atau enggak. Kalau mixer analog yang besar saya sudah terbiasa menggunakan di studio rekaman. Enggak terlalu canggung dengan alat. Cuma saya membuat saya canggung speakernya gede banget tidak seperti di studio rekaman.

Saat itu memang sistem audio (live sound) belum tersistem seperti sekarang. Speakernya banyak yang custom dan tidak ada yang cek phase sampai saya bawa phase checker sendiri. Kemudian, saya coba mixing, dan mulai saat itu saya mulai ngerti prosedur sound check. Seru juga, momentum itu saya mulai berpikir asyik juga kalau diseriusin banget,” kenang Joseph. Info lanjut mengenai, Awal Sebagai Live Sound Engineer, Catatam Menjadi Sound Engineer. Baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 10/Thn. XVI/2017 atau di media SCOOP/Majalah Audiopro.

Related Posts