• Sabtu , 16 Desember 2017

IRFAN CHASMALA MUSIK SUDAH SISTEMATIS

MEREKA BELUM PAHAM BAGAIMANA KONDISI DAN SISTEMATISNYA DUNIA MUSIK SEKARANG TERUTAMA DI INDONESIA, SEBAGAI PEMUSIK SAYA AKAN MENJELASKAN KEPADA MEREKA PARA ORANGTUA BAHWA JAMAN SUDAH BERUBAH, KESEMPATAN UNTUK BERKARYA DAN MENGHASILKAN DALAM BERMUSIK SEKARANG SUDAH SANGAT MENDUKUNG DAN TERBUKA LEBAR DEMIKIAN UNGKAPAN SEORANG KEYBOARDIS, IRFAN CHASMALA YANG DITEMUI APRO DI STASIUN TELEVISI INDOSIAR DALAM SEBUAH PROGRAM REALITY SHOW SIARAN LANGSUNG.

 

Belajar piano klasik mulai dari usia 7 tahun. Ayah Irfan Chasmala adalah Chandra Chasmala, seorang pemusik jazz senior. Irfan memilih piano dalam belajar musik karena piano menurutnya adalah instrument yang paling lengkap untuk mewakili seluruh alat musik dari sudut pandang harmoni, rythem dan komposisi. Dari belajar musik tersebut membuat dia berpikir untuk menjadi seorang composer dan arranger musik nantinya. Terwujudkah cita-cita keyboardis kelahiran 19 Mei 1972.

LINGKUNGAN PEMUSIK

Selepas masa SMA musisi yang sekarang identik dengan menggunakan topi wizard dalam penampilannya ini lebih sering sering terjun langsung bermusik dengan Yance Manusama, Erwin Gutawa, Mus Mujiono dan musisi senior lainnya. “Saya memang lahir dilingkungan keluarga pemusik. Lingkungan saya pun pemusik. Saya dikelilingi oleh para pemusik. Jadi menurut saya, kadang lingkungan jauh lebih penting dalam  menentukan bagaimana kita harus berinteraksi dengan orang lain,” tuturnya mengawali wawancara. Dengan lingkungan seperti itu menurutnya ia banyak  belajar bagaimana berinteraksi dengan para musisi senior, jam terbang dan pengalaman mereka dalam bermusik sehingga semua pengalaman tersebut dijadikan pegangan hingga sekarang.

 

Ditengah kesibukannya sebagai pemain keyboard di acara Golden Memories Vol. 2 yang tayang setiap hari, ia pun masih sibuk bersama group band Funk Section. Belum lagi dirinya juga bermain untuk Erwin Gutawa Orkestra, Twilight Orchestra, Oni and Friends. Itu semua berkat pengalaman saat dulu yang sekarang sangat menguntungkan. “Saya ini termasuk musisi yang beruntung karena mengiringi berbagai genre musik yang ada di Indonesia (Pop, Rock, Dangdut, Dangdut Koplo, dan jazz), bisa bermain dengan para musisi lain  serta sudah mengiringi banyak penyanyi dijamannya,” jelas Irfan yang pernah menjadi pemain keyboard terbaik musik rock tahun 1989 ini.

MUSIK SUDAH SISTEMATIS

Dalam beberapa pendapat di dunia maya musisi adalah jenis profesi bagi orang yang terjun dalam bidang musik. Banyak orang yang menjadikan musik sebagai hobby dan banyak pula yang menjadikan musik sebagai profesi. Namun, seringkali para musisi dipandang sebelah mata dan kurang mendapatkan tempat di masyarakat sehingga seringkali mereka terpaksa memilih profesi lain yang lebih dianggap dan memiliki status sosial yang jelas di mata masyarakat. Profesi musisi sering menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Apalagi didukung dengan penilaian bahwa bekerja sebagai musisi tidak dianggap sebagai salah satu pekerjaan formal yang menjanjikan dan menghasilkan penghasilan tetap, terutama oleh orangtua yang cenderung kurang  mendukung bahkan melarang anaknya untuk berkecimpung di dunia musik.

Info lanjut mengenai cerita Irfan dengan Manfaatkan Medsos, Misi dan Keyboard. Baca selengkapnya ya di Majalah Audiopro edisi 09/Thn. XVI/2017 atau di Scoop Majalah Audiopro.

Related Posts