• Senin , 25 Juni 2018

CHORUS ANALOG VS DIGITAL

MUSIK TIDAK TERLEPAS DARI PERKEMBANGAN TEKNOLOGI. DI ZAMAN YANG SERBA DIGITAL SAAT INI, TIDAK TERHINDARKAN BERAGAM PRODUK ALAT MUSIK DIGITAL, SEPERTI PEDAL EFEK DIGITAL.

Salah satu jenis efek yang sering digunakan pemain bass adalah Chorus. Kalau Anda simak rekaman bass sejak era tahun 1960-an sampai sekarang, bisa kita nikmati sound bass yang renyah dan lebar serta warmth karena dibalut oleh efek Chorus. Demikian juga untuk live, banyak pemain bass menggunakan efek Chorus pada sound bass live-nya.

Oleh karena itu, kali ini akan kita bandingkan antara pedal analog Chorus dengan pedal digital Chorus. Sejak awal kemunculannya, digital selalu menjadi perdebatan panjang tanpa akhir di kalangan musik. Ada kubu yang fanatik dengan pedal analog, ada juga yang menerima dan menggunakan pedal digital secara maksimal sesuai kemajuan teknologi. Masing-masing pasti memiliki pendapat sendiri, namun semua kembali kepada selera Anda, juga kegunaan dan tujuan Anda bermain musik. Berikut pendapat dari banyak sumber yang kami rangkum tentang pedal analog Chorus dibandingkan pedal digital Chorus.

ANALOG

Memiliki sound yang lebih hangat (warmer) dan manis (sweeter). Analog pada dasarnya memang berbunyi (tergantung pedalnya) lebih noise (tidak jernih) dibandingkan pedal digital. Banyak pedal chorus analog yang diproduksi dan pastinya memiliki perbedaan karakter dan kualitas sound. Komponen analog memiliki rasa sound yang “manis” atau kadang “annoying” juga kurang akurat dan valid serta memiliki kedalaman/kepenuhan sound yang sangat natural.

Ke semuanya ini tidak akan ditemukan pada sound digital. Penggemar pedal chorus analog menyukai sound chorus yang tebal, kadang kasar, namun kurang akurat misalnya dalam hal tempo/delay chorusnya. Beberapa pedal Chorus analog terbaik, seperti BOSS CEB-3, Hartke HC33, MXR M83, T-REX Sweeper 2, bisa menjadi pertimbangan untuk digunakan.

DIGITAL

Menerjemahkan sinyal elektrik ke bahasa binary dan menerjemahkannya kembali ke audio. Pada saat kita merekam dan mixing, yang terjadi adalah konversi lagi pada data sound digital tersebut. Ini yang sering menimbulkan pendapat bahwa sound pedal digital akan terdengar lebih tipis dan bright, tidak sehangat (warmth) sound pedal analog. Efek digital pada dasarnya adalah algoritma, sebuah formula matematika yang diaplikasikan ke sound. Memiliki kelebihan bisa menempatkan frekuensi yang tepat dalam mixing, lebih baik dari pedal analog.

Cenderung lebih bright dan (tergantung dari pedal) dapat lebih tipis dan metalik jika dibandingkan dengan pedal analog. Tidak semua pedal digital berbunyi buruk, bahkan beberapa pedal digital seperti TC Electronic Corona memiliki sound yang fantastik, demikian juga Digitech CR-7 Stereo Chorus, Strymon, dan beberapa pedal Chorus digital lainnya yang bagus. Pedal digital memiliki variasi sound chorus yang lebih banyak dibandingkan pedal Chorus analog, sehingga memungkinkan karakter sound Chorus tertentu yang kita imajinasikan. Digital akan terus berkembang dan menjadi semakin baik.

Sinyal analog dan digital seperti kata-kata dan angka, dalam pengertian informasi encoding. Masing-masing memiliki batas. Dalam sound, batasnya diukur pada dimensi audio yang diukur, yaitu frekuensi dan amplitudo. Semua kembali kepada kegunaan dan tujuan kita akan sound Chorus, baik untuk rekaman maupun live. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak harus “memilih” antara sound analog dan digital.

Ada saatnya kita membutuhkan sound analog pada sebuah situasi, ada juga saatnya kita harus menggunakan sound digital kalau itu memang dibutuhkan untuk rekaman atau live. Banyak sekali pertimbangan, di antaranya faktor ekonomi, karakter yang sesuai, jenis musik, selera, dan banyak lagi. Akhirnya kembali kepada kita lebih bijaksana dalam mengolah karakter sound Chorus yang sesuai untuk kebutuhan kita.

 

Related Posts