• Senin , 25 September 2017

POLYPHIA IBANEZ GUITAR CLINIC TOUR IN ASIA 2017

BAGI SEBAGIAN KALANGAN MUSISI KHUSUSNYA GITARIS DI BANDUNG DAN SEKITARNYA, TANGGAL 28 MEI 2017 LALU MERUPAKAN SEBUAH MOMEN MENGGEMBIRAKAN BAGI MEREKA. SALAH SATU DUO GITAR YANG SEDANG HITS AKHIR – AKHIR INI DI KOMUNITAS GITARIS BERKUNJUNG UNTUK MELAKUKAN RANGKAIAN CLINIC TOUR DI INDONESIA YAITU POLYPHIA.

 

Band yang digawangi oleh Tim Henson dan Scottie LePage ini tiba di Bandung usai mengikuti rangkaian tur di beberapa negara di Asia lain seperti Cina, Thailand, Singapore, dan sebagainya. Acara digelar di Caviar Lounge ‘n Resto, Lengkong Kecil Bandung pukul 15.00 WIB. Namun antusiasme penonton pada saat itu cukup besar dan sudah memadati venue dari pukul 13.00 WIB. Polyphia sempat melakukan sound check satu jam sebelum acara dimulai untuk memastikan semuanya berjalan baik.

Acara dibuka dengan penampilan yang cukup apik dari gitaris lokal yang baru saja merilis sebuah album solo perdananya, yaitu Ivan Devota. Ivan membawakan dua lagu yang diambil dari albumnya “My Way” dengan sangat memukau di hadapan sekitar 300 pengunjung yang hadir pada sore hari itu. Kemudian disusul oleh penampilan dari gitaris asal Bandung lainnya, yaitu Balum, yang juga baru merilis solo album perdananya. Gitaris yang kini bergabung dengan salah satu band rock asal Bandung, yaitu Alone at Last tersebut membawakan dua buah lagu yang salah satunya merupakan single solo instrumentalnya yang berjudul “Sunrise”.

Kemudian, disusul gitaris senior, Aria Baron yang akrab dipanggil Baron tampil sebagai bagian dari Ibanez Family Indonesia. Salah satu gitaris papan atas senior itu terlihat tak kalah dengan gitaris muda lainnya di sana. Dengan gitar Jem Series-nya (Steve Vai), Baron memadukan unsur musik rock klasik dengan riff-riff modern energik yang pastinya cukup menghibur para penonton. Puncak acara, penampilan Polyphia, tampil dengan lagu-lagu yang sudah sangat hits pada album “Muse” dan “Renaissance” di antaranya adalah Champagne, Finalle, dan Euphoria. Tim dan Scott terlihat atraktif dan tidak canggung, meski dengan kondisi fisik yang sudah cukup terkuras karena Indonesia adalah negara terakhir dari rangkaian turnya sebelum kembali ke Amerika.

Mereka tampil hangat dengan menceritakan bagaimana album mereka terbentuk dan bercerita kalau mereka sangat mengagumi salah satu musisi hip hop Drake, hal itu terlihat dimana lagu Champagne di-remix dengan salah satu nomor dari penyanyi yang berasal dari Kanada tersebut. Pada sesi tanya jawab, beberapa penonton melemparkan beberapa pertanyaan antara lain tentang teknik bermain gitar, influence, spek gitar, dan lain lain. Ada satu kejadian menarik, yaitu ada penonton yang bertanya kepada Scott apakah dia mampu memainkan gitar dengan hidungnya seperti yang ia lakukan pada saat mereka klinik di Cina. Scott pun memenuhi permintaan itu, sontak seluruh penonton tertawa karena kejadian tersebut.

Akhir dari pertunjukkan ini dilakukan sesi foto dan tanda tangan autograph yang sebelumnya dibagikan kepada penonton. Jumlah penonton yang hadir hampir mencapai 300 pengunjung dan mereka berbaris untuk mengantre satu per satu sambil menunggu waktu berbuka puasa, tampak Scott dan Tim sudah sangat kelelahan namun dengan cukup sabar akhirnya sesi tanda tangan pun selesai sekitar pukul 19.00 WIB. Acara ini berjalan sukses berkat kerjasa ma dengan Tiga Negeri Music House dan Indonesian Guitar Community (IGC) sebagai pelaksana di lapangan kemudian untuk media partner di antaranya adalah Macca Magazine, Audiopro, bermusik.co.id, dan acara.co.id serta Tridy Sound System untuk audionya. Sebelum berangkat ke airport, Polyphia sempat diajak berkunjung oleh tim dari Ibanez Indonesia ke toko musik yang ada di Bandung, yaitu Toko Nada dan Tiga Negeri Music House. Mereka sempat berfoto dan mencoba beberapa seri Ibanez yang ada di sana.

Related Posts