• Sabtu , 16 Desember 2017

Indra Qadarsih Perkembangan Teknologi Audio Sangat Diperlukan

INDRA QADARSIH MERUPAKAN SEORANG MULTI TALENTA DALAM INDUSTRI MUSIK DI INDONESIA. TIDAK SAJA SEBAGAI MUSISI, ARANJER DAN PRODUSER, SOSOK INDRA Q JUGA SEBAGAI SOUND ENGINEER YANG KAYA PENGALAMAN INI KEGIATAN RUTINNYA BERADA DI DALAM STUDIO MIXING DAN MASTERING YANG BOLEH DISEBUT DENGAN “BAT CAVE” ATAU “BED ROOM STUDIO”.

 

Indra Q juga sebagai keyboardis BIP, memiliki ilmu audio mixing/mastering dan pengalaman yang tak diragukan. Karya mixing dan mastering rasanya sudah tak terhitung lagi dari sejumlah lagu dan album yang telah ditanganinya dapat memanifestasikan kualitas audio yang bermutu. Oleh karena itu, ia senantiasa update teknologi meskipun tergolong tidak murah demi mencapai kualitas rekaman yang terbaik. Dahulu studio tracking, mixing dan mastering bertempat di dua tempat, yaitu Radio Dalam, Jakarta Selatan dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Namun, seiring waktu dengan padatnya hiruk-pikuk Jakarta yang selalu menerjang macet di jalan raya, memutuskan Indra untuk membangun studio di rumah pribadinya, di jalan Pancoran Barat, Jakarta Selatan.

“Saya tinggal di sini, dahulu saya pindah-pindah (studio) di Radio Dalam dan Cempaka Putih. Dahulu tahun 2000 kan belum macet, mobilitas masih enak. Mulai tahun 2010, saya mulai mikir dan memutuskan peralatan mixing dan mastering saya pindah semua ke rumah,” jelas Indra ketika ditemui A-Pro di kediamannya. Sejak studio dirancang di rumah pribadinya, jauh lebih nyaman dan fokus dengan pekerjaan karena tidak lagi dihadapi masalah kemacetan di kota Jakarta. “Kebetulan saya juga dapat scoring (ilustrasi musik film).

Untungnya satu tempat nih sekarang. Jadi kadang sambil mengerjakan scoring, sambil mastering, dan sambil mixing juga. Jadi enggak kemana-mana, enak,” pungkasnya. Kebanyakan pekerjaan yang tiap hari dilakoni adalah tugas mixing dan mastering, setidaknya ada tiga album dalam sebulan yang perlu diselesaikan. Sesuai perkembangan tren produksi musik di tanah air, Indra banyak menangani proyek mixing dan mastering dari band independen. “Perkembangan musik independen, banyak sekali di era sekarang,” ucap Indra.

Proyek Restorasi

Selain menangani proyek mixing dan mastering, saat ini ia banyak menerima pekerjaan restorasi audio dari album-album klasik era tahun ‘50 hingga ’90-an yang menyempurnakan kualitas audio yang tadinya tak nyaman didengar hingga nyaman didengar dengan kualitas audio kekinian. “Ada sekitar 5000 lagu dari album tahun ‘50 hingga ‘90 yang saya restorasi diberikan dari beberapa label rekaman. Sangat menarik, zaman dulu kualitas bermusik sangat baik, jadi asik dan keren banget. Sayangnya, teknologi audio tidak mendukung.

Namun, di era tahun ‘80 sampai ‘90 kualitas bermusik terasa menurun tetapi teknologi audio dan instrumen musik mulai berkembang. Jadi bagus-bagus saja secara bunyi. Tetapi begitu di-compare dengan era tahun ‘50-70-an, kita dengarnya musikal banget akhirnya tidak memperhatikan secara audionya. Musisi-musisi tahun itu mainnya jago-jago, istilahnya sangat musikal proses rekamnya pakai teknologi apapun enggak masalah,” ungkap Indra yang merestorasi setiap lagu melalui dukungan software audio yang kemudian diproses mastering dari materi file wave hasil konversi dari pita analog.

Dalam merestorasi audio, ia perlu membentuk sebuah tim yang terdiri dari 8 orang audio engineer. Kedelapan audio engineer ini bertugas membersihkan dengan membuang noise sampai enak didengar. Jika ada file yang benar-benar sudah rusak, maka perlu di-reject. Kemudian, ia menangani dengan sentuhan proses audio menggunakan sejumlah software audio. Salah satu contoh, jika ada materi lagu volume bergelombang (wobble) dapat diatasi dengan salah satu software (plug ins) audio editor menghasilkan volume menjadi rata kembali dan bersih dengan proses mudah dan cepat.

Beralih ke Apollo Black

Saat ini, Indra mulai meninggalkan teknologi prosesor audio analog untuk kebutuhan mastering ke teknologi digital. Perlu diingat, audio engineer ini sudah sangat berpengalaman dan hafal karakter prosesor analog dari sejumlah brand premium dan hasil pekerjaannya menjadi standar mastering di Indonesia. “Memang sebelumnya, saya analog freak banget. Kalau enggak pakai Manley (prosesor audio premium) enggak pernah dapat. Pada waktu itu, saya juga enggak ngerti, apa penyebabnya kalau mastering harus pakai (prosesor) analog. Begitu pakai Apollo audio interface, teknologi baru. Nah, saya merasakan ada sesuatu yang beda. Sampai saat ini (setahun) saya sudah beralih ke Apollo Black (UA Audio),” jelas Indra yang memanfaatkan emulasi Manley dari Apollo Black.

Terlebih, Indra memanfaatkan headphone (closed monitoring) selama proses mastering sehingga detail suara terdengar sangat jelas. “Saya sudah menggunakan Manley selama 17 tahun dan sangat hafal. Begitu, pakai headphone tambah jelas lagi (terdengar dari headphone) saaat pakai Apollo dengan fasilitas emulasi Manley. Begitu menggunakan Apollo Black seolah dunia seperti terbalik. Istilahnya ‘Holy Grail’ konverter AD/DA dengan teknologi yang lebih maju. Saya yakin, ternyata perbedaannya terasa. Saya sudah tau (hafal) bunyinya dan sudah bisa improve. Akhirnya, saya jual Manley,” ujar Indra menambahkan.

Baca selengkapnya di Majalah Audiopro Edisi 06/Thn. XVI/2017.

Related Posts