• Selasa , 17 Oktober 2017

INDRA MALELO DISTORSI DARI HEAD AMPS

MALANG-MELINTANG DI PANGGUNG MUSIK CADAS NASIONAL, TENTUNYA MEMATANGKAN GITARIS ASAL JAKARTA YANG SEKARANG BERDOMISILI DI MEDAN DAN JAKARTA INI UNTUK TOTAL DALAM BERKARYA. BAHKAN GITARIS INI BARU SAJA MERILIS SOLO ALBUM BERTITEL “HATRED, ANGER AND STRUGGLE”, SEBUAH ALBUM YANG MENTERJEMAHKAN EKSPRESI KELIARANNYA DALAM BERMAIN GITAR.

Indra Malelo tertarik bermain gitar sejak melihat John Lenon memainkan gitar pada kelas 2 SMP. Kemudian sempat kursus gitar klasik, tapi sudah menyukai musik metal sejak awal, bahkan saat SMA sudah nge-band dengan memainkan lagu-lagu Sepultura. Keseriusannya bermain gitar membawanya untuk bersekolah atau menuntut ilmu di MI (Musician Institute), Fakultas GIT (Guitar Institute Technology), Hollywood USA. Sepulang sekolah, Indra Malelo sempat mengajar dan bergabung dengan band Nasrakat beraliran Psychedelic Metal, dan sempat merilis album ‘Prolouge”. Kemudian dengan band Omega yang beraliran Shouther Metal sempat merilis alum ‘Addicted’. Pada tahun kemarin merilis solo album, yang mewakili perjuangan dan ekspresinya total dalam bermusik.

SOUND DISTORSI TANPA EFFECT

Fender Stratocaster adalah gitar pertama yang dimiliki musisi kelahiran Jakarta pada 1980 ini. Akan tetapi, sound distorsi ternyata lebih cocok sound yang lebih tebal. Maka gitaris ini mengganti equipment permainannya, dengan menggunakan Ibanez Prestige AR VW 2000. Gitar yang digunakannya saat proses pembuatan album solonya. Belakangan Indra Malelo juga menggunakan gitar Gibson. “Saya butuh sound yang lebih warm dan fat dan kuat distorsinya.

Dua gitar tersebut cukup bisa mewakili,” ungkap gitaris yang mengaku memilih genre metal jazz/metal fusion ini. Selain karakter sound pilihan dua gitar itu juga didukung dengan playability yang nyaman. Lebih lanjut pengemar Yngwie Malmsteen hingga George Benson ini mengungkapkan “Saya sering terganggu dengan volume di knop. Dua gitar ini cukup bisa mengatasi nyaman digunakan dan sesuai dengan kebutuhan saya dalam bermusik. Yang menarik, walaupun suka dengan sound distorsi justru Indra Malelo tidak menyukai menggunakan effect.

Gitaris ini justru ingin mempertahankan karakter sound asli gitar. “Sebenarnya hal ini sesuai dengan kebutuhan saya dalam bermusik karena saya memainkan musik metal dan hanya butuh sound distorsi. Jadi, saya cukup menggunakan distorsi atau men-setup saja dari head gitar.” Dan untuk itu diperlukan ampli yang bisa memenuhi kebutuhannya tersebut.

Dipilihlah Head Messa Boogie Dual Rectifier. “Saya mengandalkan karakter sound distorsi dari head amps ini. Saya juga bukan tipikal gitaris yang ribet dalam mengulik sound. Biasanya pada gitar, saya setup Gain Full, midle dan treble di posisi jam 12. Karakter distorsi lebih banyak saya percayakan pada head amps. Itu sudah lebih dari cukup, tanpa banyak effect.” jelasnya lebih lanjut. Sebagai tambahan digunakan cabinet Marshall Reissue 1967.

Selain dua nama gitaris di atas, Indra Malelo juga mendapat inspirasi dari banyak gitaris dari beragam genre. Sebut saja John Lennon, Chuck Schuldiner (Death), Andy Larocque hingga Allan Holdsworth. Saat ini Indra Malelo disibukkan dengan komunitas MRI (Musisi Rock Jamming), yang merupakan paguyuban musisi-musisi lawas di Medan yang membawkan berbagai musik lintas Genre.

Related Posts