• Minggu , 23 September 2018

FRANKY SADIKIN BASSIST IDEALIS YANG ANTI BAJAKAN

MEMANG, KARAKTER IDEALIS ITU BANYAK TIDAK DI SUKAI ORANG, NAMUN ADA HAL-HAL MEMBANGGAKAN YANG NYATA DI BALIK ITU SEMUA. DENGAN HASIL KARYA FRANKY SADIKIN BERUPA BUKU PELAJARAN BASS, ALBUM BAND SAMPAI ALBUM SOLONYA YANG DAPAT KITA NIKMATI HINGGA SAAT INI MEMBUKTIKAN, BAHWA TIDAK SELAMANYA ORANG IDEALIS DAN BERANI BERBEDA ITU SELALU KE ARAH YANG NEGATIF.

Tidaklah mudah menjadi seorang Idealis, terlebih untuk orang yang berkecimpung di dunia musik. Dalam bermusikpun, terkadang banyak di tentang orang karena berani beragumen kontras dengan pendapat yang berbeda. Termasuk instrumen bass yang terkadang sering dikesampingkan oleh para penikmat musik. Padahal, perannya sebagai penjaga garis belakang ritme bersama drum sangatlah penting untuk menjaga dinamika dari sebuah lagu.

Kesan minor itulah yang ingin di patahkan oleh seorang bassis Franky Sadikin. Bernama lengkap Raden Franky Kurniadi Sadikin, pada awalnya pria kelahiran Bandung 7 november 1980 ini belajar musik dengan alat tiup madenda, sebuah suling tradisional sunda (da mi na ti la da) saat duduk di sekolah dasar. Lalu penggemar Flea dan Billly Sheehan ini mulai mengenal bass saat menginjak Sekolah Menegah Pertama.

Sebelum mendalami bass secara otodidak, Ia mulai belajar bass terutama tekhnik slapping dengan Judy Judharta, dan beliau juga yang sampai detik ini masih memberikan motivasi kepada Franky. Pemain bass berkepala plontos ini juga pernah belajar dengan Arya Setyadi untuk mendalami ide serta pengembangan tekhnik terutama tapping technique yang banyak terpengaruh darinya. Selain pernah belajar bass di Lembaga Pendidikan Musik Chic’s (2000-2001), Ia juga pernah belajar gitar klasik di Yayasan Musik Indonesia Yamaha (1996-1998).

MENGAJAR SAMPAI MENULIS BUKU

Franky Sadikin mengawali kariernya sebagai pengajar private di beberapa studio. Lalu berkembang menjadi instruktur bass di Lembaga Pendidikan Musik Chic’s (2001-2004), Purwacaraka Musik Studio (2003), sampai menjadi Dosen di Fakultas Bass Institut Musisi Indonesia (2005). Karena mengajar merupakan salah satu hobinya, pria yang menyukai solo instrumental Charlie Parker dan Dizy Gillespie ini masih mengajar di Kita Anak Negeri Depok. Selain mengajar, pria yang sudah malang-melintang di industri musik Indonesia ini juga menulis buku. Tercatat, sudah ada 3 buku yang beredar.

Info lanjut mengenai Idealis dan anti Bajakan, Discography baca selengkapnya di Majalah Audiopro Edisi 04/Thn. XVI/2017.

Related Posts