• Senin , 25 Juni 2018

KINGA GLYK MUSIK, JIWA DAN ENERGINYA

BELUM GENAP BERUSIA 20 TAHUN, KARIER BERMUSIK KINGA GLYK CUKUP MENCENGANGKAN. SELAIN SUDAH BERMAIN DI 100 KONSER LUAR DAN DALAM NEGERI, BASSIST WANITA INI BAHKAN BERHASIL MENGGIRING LEBIH DARI 20 JUTA YOUTUBERS MENYAKSIKAN AKSINYA MENGCOVER VERSION LAGU TEARS IN HEAVEN-ERIC CLAPTON DENGAN GAYA YANG BERBEDA

 

Style-nya asik, jemarinya lincah berpindah grip pada leher gitar bass yang panjang. Di tangannya, lagu sedih Clapton menjelma menjadi harmoni yang energik, positif, dan ceria. Kinga memang piawai mengaransemen lagu, hanya melalui gitar bass, ia mampu membangun citra baru sebuah lagu tanpa mengurangi esensinya. Itu adalah salah satu kebisaan gadis asal Polandia Kinga Glyk yang sekarang tengah naik daun, dan sudah merilis album keduanya “Happy Birthday” di bulan Juni tahun lalu.

Petualangannya di dunia musik dimulai saat dirinya berusia 12 tahun. Kinga menjadi bagian dari band keluarga Glyk PIK Trio bersama sang ayah, Irek Glyk (dikenal sebagai seorang vibraphourist dan drummer) serta saudara laki-lakinya, Patrick (drum). Bersama ayahnya, Kinga juga baru saja tampil di perhelatan Java Jazz 2017 beberapa waktu lalu.

Meskipun berusia muda, Kinga tercatat sudah bermain bersama sejumlah musisi top dunia, seperti Robinson Jnr, Bernard Maseli, Ruth Waldron, Natalia Niemen, Jorgos Skolias, Apostolis Anthimos, Leszek Winder, Paweł Tomaszewski, Grzegorz Kopolka, Joachim Mencel, Arek Skolik, Mateusz Otremba (Mate.o), Marek Dykta, dan Piotr  Wylezoł. Di tahun 2015, untuk kalangan bassist Polandia, gadis penyuka topi ini dinobatkan sebagai the young generation, the rising star jazz, dan blues music. Kinga juga masuk nominasi untuk kategori New Hope, Guitar dan Discovery of the Year pada survei JAZZ TOP and Blues.

JAZZ, BLUES, DAN FILOSOFINYA

Dua kata itu sangat bermakna bagi hidup Kinga. Dalam wawancaranya dengan Blues. gr, ia menjelaskan bahwa sejak kecil, musik sudah ada di sekelilingnya dan itu memberi banyak arti bagi dirinya, “It has already taught me a lot and it still does…,” katanya. Ketika pertama kali membaca sejarah musik blues dan jazz, Kinga mencatat bagaimana dua genre musik itu berkaitan.

Berapa banyak aspek yang berbeda memiliki bentuk blues dan jazz, dan bagaimana musik itu tumbuh membuatnya yakin bahwa tipe musik seperti inilah yang memberikannya kebebasan, namun tetap menyadari ada aturan tertentuyang mesti diikuti jika ingin mengembangkankemampuan bermusik. “I loved blues since I wass a small girl, blues makes me tick,” ujarnya. Kinga mulai memainkan dua musik tersebut di usia yang sangat belia.

Kemudian di usia 12 tahun, ia mendapatkan konser profesional pertamanya. Bagi Kinga itu bukan sekadar konser yang memberikannya kesempatan membangun teknik bermainbassnya, namun juga kesempatan untuk belajar bagaimana menghadapi tekanan serta bagaimana berinteraksi dalam panggung yang sesungguhnya. Dalam hal ini, ia beruntung memiliki ayah yang juga seorang musisi.

Baca selengkapnya di Majalah Audiopro edisi 04/Thn. XVI/2017.

Related Posts