• Sabtu , 16 Desember 2017

THOMAS RAMDHAN GIGI PERSIAPAN SEBELUM REKAMAN

THOMAS RAMDHAN, MUSISI KELAHIRAN BANDUNG, DI SELA KESIBUKAN TOUR GIGI SELALU MENYISIHKAN WAKTU MENGEMBANGKAN KREATIVITAS MUSIK SEBAGAI PRODUSER BAGI SEJUMLAH MUSISI DAN BAND DIKERJAKAN DI RUMAH PRIBADINYA DI KAWASAN MAHOGANY RESIDENCE, JALAN ALTERNATIF CIBUBUR, DEPOK.

 

Sebagai band senior, Gigi eksis memasuki tahun ke-23 memiliki anggota yang solid, kaya kreativitas, pengalaman, serta dibarengi melek teknologi musik membuat seluruh anggotanya seolah tak bosan berkreasi. Salah satunya, Thomas yang membangun studio mini dalam sebuah ruangan di rumah tinggal pribadinya. Ukurannya tak luas, namun ruang studio ini dimanfaatkan Thomas dengan maksimal. Treatment akustik juga dipasangkan di setiap sisi dinding studio dengan konsep home recording ini bisa digunakan merekam drum, vokal, dan instrumen lainnya. Sejumlah preamp keluaran UA Audio dan TL Audio bertengger pada rak meja mixing. Sedangkan converter AD/DA Lynx Aurora dengan fasilitas 16 channel input/ouput sudah lebih dari cukup digunakan pada konsep home recording.

Pemilihan converter yang dipadukan software DAW Sonar pun mampu mengangkat kualitas hasil rekaman standar industri. Dalam pemilihan perangkat rekaman meskipun tidak murah ini, Thomas mengerti kebutuhan perlengkapan rekaman yang menunjang proyek rekaman pribadinya dari rumah. Sejumlah karya pribadinya dipasarkan dalam format digital melalui iTunes, baik album maupun single. Ketika ditanya Apro, mengapa membuat rekaman pribadi dari rumah? Musisi ini menjelaskan,”Proyek (rekaman) saya sebetulnya ingin menyenangkan hati dan pikiran saya. Alhamdulillah, saya bias membuat label sendiri.”

HOME RECORDING

Musisi penggemar Solitare games ini termasuk relatif baru dengan teknologi rekaman digital dibanding personel Gigi lainnya yang sudah memiliki system rekaman sendiri. “Saya termasuk telat pakai komputer (rekaman berbasis komputer). Sampai enggak keluar rumah selama setahun untuk belajar Sonar (software DAW). Ada teman saya yang mengajarkan Sonar. Sampai sekarang saya menggunakan software ini dan bahasanya lain lagi dan menunya beda karena butuh waktu luang lagi untuk menyesuaikan,” pungkasnya.

Sejumlah karyanya single dan full album terlahir dari studio mini bassist yang di-endors produk Musicman dan Laney Amplifier. Sudah ada 10 album rekaman yang diproduksi di rumahnya, di antaranya adalah My Name is Thomas Ramdhan, Over Tour, Bass Heroes, dan Aku Cape. Dari sejumlah album yang telah dibuatnya diramu dengan berbagai genre, selain pop, ada aransemen EDM, jazz funk, rock, dan heavy metal.

Album yang sudah saya pasarkan di iTunes dibilang banyak banget tidak juga kok. Ya pokoknya ada bias di download iTunes. Seluruh aransemen murni saya buat sendiri. Saya memproduseri DJ, band pop, band metal, sampai artis solo,” ujar Thomas yang membentuk label rekaman Living Record. Meski dibuat dari rumah karya-karyanya bias dinikmati pecinta musik dari belahan dunia. Tidak jarang Thomas memanfaatkan studio pribadinya untuk kebutuhan rekaman bass pada sejumlah album Gigi. Termasuk album religi yang diluncurkan diawal bulan Ramadhan (Mei 2017), salah msatu diantaranya karya Rhoma Irama “Adu Domba” sebagian ia lakukan tracking (rekam) bass di rumah. Data audio (track bass) dikirim ke studio Colloseum milik Aria Baron untuk diteruskan dengan tracking lainnya, kemudian diproses mixing dan mmastering. Berbicara sebagai pemain bass pada band Gigi, Thomas memiliki cara sendiri agar ia bisa bermain senyaman mungkin dengan bass yang digunakan saat rekaman maupun live performance.

Mengenai Frekuensi, Instrument Bass, Kabel, dan Dry Track. Baca selengkapnya di Majalah Audiopro Edisi 04/Thn. XVI/2017.

Related Posts

2 Comments

  1. Online Music Arranger
    10 Juni 2017 at 7:50 pm Balas

    wow… sangat memotivasi sekali gan…
    salam kenal….

    • Audiopro
      14 Juni 2017 at 11:00 am Balas

      Hihihihi Makasih ya :)) Salam kenal dari kami. Enjoy our Audiopro Magz 🙂