• Rabu , 24 Oktober 2018

SLANK: PALA LO PEYANG UNTUK HOAX

Panasnya suhu politik di Indonesia, ternyata bukan jadi inspirasi utama saat Slank merilis album terbaru mereka. Album yang resmi dirilis pertengahan Februari lalu di markas mereka, Potlot, bertajuk “Pala Lo Peyang”. Abum ke-22 ini memang menjadi semacam kegelisahan bagi para personel yang beranggotakan Kaka (vokal), Bimbim (drum), Ridho (gitar), Ivan (bass), dan Abdee (gitar), ketika melihat fenomena hoax yang banyak beredar di masyarakat beberapa waktu terakhir. Saat ditanyakan apakah album ini berhubungan dengan ramainya Pilkada, Bimbim menjelaskan album ini tidak ada hubungannya. “Album ini sudah selesai sebelum ramainya Pilkada. Akan tetapi, kami sebenarnya juga gerah melihat fenomena politik yang memanas,” ungkap drummer ini menjelaskan, saat ditemui AudioPro setelah meresmikan peluncuran album tersebut.

Menurut Kaka, justru salah satu lagu diilhami oleh fenomena berita hoax yang menyesatkan. “Banyak penyebar hoax yang bernuansa SARA, mengatasnamakan agama dan kebenaran. Kami cukup muak dengan hal ini, gak perlu ditanggapi, cukup ucapin aja ‘Pala Lo Peyang’ buat penyebar hoax tersebut,” lanjut vokalis yang juga menyumbangkan art work pada cover album terbaru mereka ini, menjelaskan. Maka munculah lagu bertajuk ‘Pala Lo Peyang’ yang akhirnya juga dijadikan title album terbaru mereka.

 

Ada hal terbaru di album ini, karena Abdee Negara sama sekali tidak terlibat. Gitaris ini memang dikabarkan sedang sakit dan menurut Bimbim kira-kira akan bias aktif kembali di bulan Juni mendatang. Tentu saja, berkurangnya satu gitaris membuat ramuan musik mereka terasa berbeda. Slank malah tampil lebih gahar dan mereka mengaku justru album ini banyak menampilkan lagu bertempo cepat dan gahar. “Hanya satu saja lagu berkarakter ballad,” jelas Ivan.

Hal ini memang terlihat di beberapa komposisi yang mereka mainkan, mereka tidak hanya menampilkan rock ‘n roll, tetapi juga hard rock, heavy metal hingga punk. Menurut mereka, album ini diilhami dengan banyak band rock klasik, seperti AC/DC dan sebagainya. Mengenai hal ini, Ridho seperti mendapat tantangan baru, baik memilih aransemen maupun sound.

“Kalau dulu, saya harus membagi isian gitar dengan Abdee, sekarang saya sendiri. Bukan berarti saya bisa bebas, justru saya lebih berhati-hati. Akan tetapi, untuk urusan explore sound justru saya tampil semakin lebar,” jelasnya. Album terbaru Slank tampil fresh dengan nuansa cadas yang lebih dominan. Slank termasuk band yang selalu update dengan isu yang berkembang di masyarakat. Mereka selalu menyuarakan dengan lantang ekspresi bermusiknya. Setelah lebih dari 3 dekade mereka berkarier, band ini masih mampu menjadi band yang tetap diminati. Slank masih tetap menjadi rock ‘n roll icon di Indonesia.

Related Posts