• Senin , 20 November 2017

KONSEP HOME RECORDING DISUKAI KOMUNITAS BAND METAL BARATA STUDIO

SEJUMLAH PEBISNIS RENTAL STUDIO REKAMAN MEMANG BANYAK MENGHADAPI TANTANGAN, TERUTAMA DI ERA TEKNOLOGI DIGITAL.

Saat ini musisi lebih bisa membuat kreativitasnya di rumah dengan sistem rekaman sederhana daripada mereka menyewa jasa studio rekaman. Fenomena ini merupakan tantangan bagi Nugroho Prasetyo Adi, pengelola rental studio rekaman Barata Studio. Barata Studio dibangun berbasis home recording berlokasi di bilangan Parung Serap, Ciledug, Kavling P dan K, Tangerang. Barata Studio bukanlah studio rekaman yang baru didirikan, studio ini sudah dirintis oleh Adi sejak tahun 2003. Kemudian di tahun 2010, peminat studio rekaman mulai berkurang karena dampak teknologi rekaman digital semakin murah dan kualitas bagus, sehingga menyebabkan banyak musisi beralih rekaman di rumah pribadi.

Pengalaman menjalankan rental studio rekaman, Adi memiliki strategi jitu untuk menghadapi dampak sistem rekaman digital yang dianggapnya sangat cepat. Pada tahun 2010, pemilik Barata Studio berbasis home recordingini sempat pindah dari Tangerang kota ke Tangerang Selatan. Kepindahan ini, Adi tidak lantas langsung membuka rental studio rekaman yang baru.

Hal ini dikarenakan kesibukannya sekitar 3 tahun menjadi music director dan soundman menangani sejumlah band asal Jakarta. Hengkang dari profesi MD dan soundman, Adi banting setir melakukan kegiatan di bidang jasa keuangan. Meskipun beberapa tahun melakoni profesi sebagai pengelola keuangan, Adi yang memiliki jiwa seniman dan kecintaannya terhadap musik ini, akhirnya kembali membangun sebuah studio rekaman di rumah pribadinya. Barata Studio tidak dibangun berdasarkan renovasi rumah yang ada. Ruangan Barata Studio dibangun dari nol yang digabung dengan rumah huniannya. Artinya, konsep ruangan Barata studio dibarengi dengan pembangunan rumah yang dihuninya.

KOMUNITAS

Adi melanjutkan usaha rental studio rekaman tidak saja didorong dengan jiwa sebagai musisinya. Namun setelah sempat vakum selama tiga tahun, di tahun 2013 ia melihat peluang bahwa musisi muda yang beraliran genre metal mulai bangkit kembali. Meskipun ia disibukkan dengan bisnis di luar musik, ia masih mengikuti perkembangan musik genre metal tumbuh kembali. Maklum, selama tahun 2003 hingga 2010, Barata Studio telah menjadi ikonik studio band metal karena sangat diminati oleh band beraliran cadas di wilayah Tangerang. Setumpuk data musisi metal sudah dikantonginya di wilayah Tangerang termasuk Jakarta dan sekitarnya kembali dihubungi ketika Barata Studio dibangun kembali. Pemilik dan pengelola studio ini kembali menggandeng pelanggan setia yang dahulu kerap menggunakan jasa studionya.

Mengenai Komunitas dan Home Recording, Baca Selengkapnya di Majalah Audiopro Edisi 02/Thn. XVI/2017.

Related Posts