• Kamis , 17 Oktober 2019

Rully Worotikan, Packaging Musik Si Perfeksionis

profil

Memproduksi musik, tak sekedar mencari materi lagu atau mengulik sound untuk mendapatkan hasil terbaik. Bagi Rully semua itu akan muncul dengan sendirinya seiring imej yang sengaja dibentuk dari sosok si musisi/penyanyi.

 

Agak unik memang konsep yang diusung Rully Worotikan kala berproses melahirkan sebuah karya. Sebagai seorang produser musik, khusus di awal­ project ­ia bekerja layaknya seorang psikolog. “Biasanya saya mendalami dulu karakter si penyanyi ini, cocoknya dibuat imej yang seperti apa,” jelas Rully saat ditemui di studio Rodinda di kawasan Tebet, Jakarta. Tak ada yang salah memang yang dilakukan oleh Rully, hanya saja sedikit nyentrik. Namun, kenyataannya cara seperti itu kerap berhasil. “Sosok jelmaan” si penyanyi­ biasanya­ bersatu dengan lagu dan aransemen yang dibuat kemudian. Diakui Rully, semua itu berawal dari khayalan. “Contohnya, kayaknya si A keren nih tampil begini atau si B tampil seperti ini,” cerocos pria yang sudah banyak memproduseri artis terkenal tanah air, di antaranya Armada, Marcel, Aura Kasih, Konspirasi, RANi dan masih banyak lagi. Namun, bukan hal yang mudah jug mem-branding imej si artis. Rully kerap melakukan pendekatan emosional dengan membangun komunikasi yang baik terhadap si artis. Dengan begitu akan memudahkan pekerjaan selanjutnya. Hal ini menjadi salah satu kelebihan Rully dibandingkan banyak produser musik selama ini, mengamati karakter untuk mendapatkan sesuatu yang khusus yang dapat dijual dengan cara personal dari hati ke hati.

MEMAHAMI KARAKTER LAGU

Dalam proses recording, sebagai produser, Rully termasuk salah satu yang ikut turun tangan langsung. Boleh dibilang ia total dalam mengerjakan. Sejak memulai karirnya sebagai produser pada tahun 2007, ia sedikit demi sedikit mempelajari rantai materi dalam dunia produksi lagu, salah satunya tentu saja recording. Beruntung ia mengawalinya dari seorang pemain band sehingga bukan hal yang sulit mempelajari bidang dengan ketertarikan yang tinggi. Contohnya, saat menjadi anak band ia kerap menggantikan si operator ketika recording dan editing di studio. Dalam ingatannya saat itu rekaman masih menggunakan pita. “Waktu dulu sound engineer-nya galak-galak, nggak sabaran kalau dia sudah capek biasanya kita (anak band) yang menggantikan,” ujar Rully. Dengan pengalaman tersebut justru membuka kemudahan bagi gitaris grup band OMNI ini saat harus mempelajari software recording di kemudian hari. “Pada dasarnya semua nyaris sama,” tuturnya. Mulai dari mempelajari software musik Nuendo, berlanjut ke Pro Tools dan sekarang ia memakai Cubase. Konon, yang terakhir ­Rully didapuk sebagai endorser. Menurutnya, Cubase yang ­intens ­ia pakai sejak 2 tahun lalu ini memiliki berbagai kelebihan. Adapun yang menonjol adalah bunyi yang lebih warm, cara memainkan MIDI yang lebih enak dan praktis. Sebelum melakukan recording, Rully selalu berusaha memahami karakter lagu yang hendak direkamnya. Lagi-lagi daya khayalnya bekerja. Dalam otaknya sedikit demi sedikit terpasang instrumen-instrumen apa saja yang akan ia gunakan, termasuk jenis dan tipenya. Kadang ada spesifikasi alat yang tidak sesuai dan tidak bisa didapatkannya. Namun, bukan Rully namanya kalau menyerah. Mengakui dirinya sebagai seorang yang perfeksionis, Rully pantang menyerah dalam mencari alat yang diinginkannya. “Kalau terjangkau saya beli namun kalau kemahalan biasanya minjam,” katanya terkekeh.

INSTRUMEN

Rully Worotikan memiliki standar khusus untuk recording musik yang dilakukannya. Contohnya untuk take drum, minimal ia memakai 15 mikrofon untuk miking-nya. Biasanya ia menggunakan 2 mikrofon untuk overhead, padahal umumnya penggunaan 1 mic untuk overhead saja sudah cukup. “Selama ada yang terbaik, lakukan saja,” katanya. Menurutnya, dengan begitu akan memudahkan placement­ketika mixing. Sebelum take­ drum, ia memastikan semua di-tuning dengan tepat, termasuk memastikan skin drum yang sehat. Ia mengaku baru menekuni recording drum akustik mulai tahun 2011. Sebelumnya ia kerap menggunakan BFD (software) untuk sound drum-nya. Diakuinya bahwa hasilnya sangat jauh berbeda. Melalui rekaman drum akustik, ia berhasil mendapatkan karakter suara drum yang ia mau, “Kalau memakai BFD, akan sulit menyelaraskannya dengan vokal. Ketika vokal dimajukan, sound drum-nya jadi mundur begitu pula sebaliknya.” Mengerjakan musik sesuai dengan kebutuhan dianggap Rully menjadi sesuatu yang layak diperhatikan sebagai seorang produser. Hal ini menuntut dirinya untuk mengetahu banyak karakter bunyi, misalnya saat take­ bass. Pertanyaannya, masihkah saat take bass dibutuhkan ampli (todong di dalam)? Apakah direct saja sudah cukup? Rully pun menegaskan jawabannya dengan mempertanyakan kembali apakah cara yang dilakukan itu sudah sesuai dengan kebutuhan dan tercapainya tujuan dari lagu tersebut? Dalam setiap proses take rekaman, Rully selalu menekankan agar hasil pekerjaannya sudah bisa langsung diolah oleh mixing engineer tanpa harus banyak replace. “Saya mau dengar apa yang saya rekam ,” tandasnya. Ia selalu menyerahkan hasil rekaman yang sudah di­ eq ­semua untuk kemudian di-balance. Rully memberi contoh bahwa ada baiknya­hasil recording drum sebisa mungkin harus fix terlebih dahulu,­positioning pun harus oke,­tone-nya juga sudah benar barulah ­tinggal memasukkan sound-sound lain seperti bass, gitar dan lain-lain. Dengan demikian, pekerjaan yang dilakukan tidak akan banyak membuang waktu. Meski sudah hampir 10 tahun menjadi produser, bergulat dengan teknik audio dan penerapannya, percaya atau tidak ternyata baru beberapa bulan belakangan ini ia pede­ untuk melakukan pekerjaan ­me-mixing. “Sebelumnya saya lebih suka menyebutnya sekedar balancing,” ujarnya.

Related Posts

One Comment

  1. rjcasino99.org
    16 Desember 2018 at 8:16 pm Balas

    Hi there, I wish for to subscribe for this web site to take latest updates, thus where can i do it please assist.