• Selasa , 20 Februari 2018

Kin Aulia Ciptakan Warna Dan Attitude

kin-2

Gitar bukanlah benda mati. Gitar adalah ekspresi jiwa saya. Gitar buat saya bukan sekedar sebuah instrument yang bisa dimainkan dengan fasih tapi harus dimainkan dengan hati. lagu-lagu yang saya ciptakan pun semua saya awali dari nada-nada gitar.

 

Sepenggal kalimat diatas adalah pembuka obrolan kami dengan pro­fil kita yang satu ini ketika ditanya tentang arti gitar buat dirinya. Kin Aulia. Seorang gitaris, vokalis, musisi sekaligus produser. Kiprahnya di dunia musik Indonesia sudah termasuk lama. Banyak karyanya yang sudah dinikmati oleh penikmat musik di tanah air.

KIN DAN GITAR

Menjadi drummer sebenarnya cita-cita Kin dalam menuangkan ekpresinya dalam bermusik. Namun, takdir berkata lain. Saat masih berseragam sekolah menengah pertama, Deni Casmala yang juga sahabatnya justru menyarankan sekaligus mengajarkan gitar pada gitaris dan vokalis The Fly. Momen itu, lantas menguburkan impiannya menjadi seorang drummer dan beralih mempelajari gitar. Bahkan saat SMA, bersama Deni Casmala dan dua personil lain, membentuk group band Ketoprak, band yang saat itu mengcover lagu-lagu Megadeath dan Creator. Di beberapa festival band, group ini termasuk yang selalu menjadi juara. Setelah tamat SMA, ia akhirnya berangkat ke negeri Paman Sam untuk bersekolah musik. Tentu saja, memperdalam permainan gitar menjadi tujuannya. Di sana, ia menemukan apa artinya bermusik yang sebenarnya. Ia menemukan ­filosofi­ musik yang didapat dari guru pembimbing pribadinya. Bahkan Kin, sapaan akrabnya, belajar musik bukan hanya belajar musik saja, tapi sampai ke sejarahnya. “Kalimat yang saya ingat sampai sekarang dari guru pembimbing itu adalah, jangan pernah lagi untuk mengcover musik orang lain, mulailah untuk bermain musik dengan warna yang kita punya, jangan jadi pengekor” kenangnya. Sejak paham arahan gurunya, ia berupaya mendapatkan warna sendiri dalam musiknya.

COLOR DAN ATTITUDE

Dalam hidup harus ada attitude. Begitu juga dalam permainan gitar. “Contoh attitude yang dimaksud, mau jadi pemain gitar yang sombong atau humble atau bahkan jadi gitaris sederhana ? itu semua harus sudah ditentukan saat kita memutuskan untuk jadi seorang gitaris” tutur ayah dari Kiyano ini. Dan jangan lupa, setelah attitude sudah ditentukan, ciptakan sebuah warna tersendiri. Bebas saja dalam pilihan genre musik, tapi yang perlu diingat adalah, ciptakan warna tersendiri dalam pilihan tersebut. “Permainan gitar saya bisa dibilang aneh, ada sedikit funknya, ada sedikit jazznya bahkan tak jarang kadang bermain sliding, tapi itu warna saya,” tutur lelaki yang juga membuka coffe shop dengan nama Super Gayo di bilangan Melawai, Jakarta Selatan. Kin menambahkan, bahwa menentukan warna bermusik itu mudah terbentuk ketika di bawah usia 20 tahun, lebih dari itu akan sulit. Di usia itu, Kin berpendapat sudah bisa menerapkan warna musik yang dipilihnya. Ia pun menerapkan dengan The Fly hingga sekarang. “Saya terapkan memberikan color tersendiri dalam The Fly baik dalam mencipta lagu, meng-compose, melodi, karakter, bahkan vocal, yang jadi satu paket khas The Fly,” Jelas Kin.

 

 

“Baca selanjutnya di Majalah Audiopro edisi 08/2016”

Related Posts