• Kamis , 19 Oktober 2017

Pahlevi Indra Santoso, Survive Dengan Keadaan Apapun

Levi di Studio

“Teknologi itu tidak bisa dihentikan. Dengan segala peralatan yang murah tapi canggih, rasanya saat ini segalanya bisa dilakukan oleh semua orang, termasuk di industri rekaman. Bukan hal yang mudah untuk melihat kenyataan bahwa industri rekaman saat ini tidak terlalu menggembirakan dari segi penjualan (bisnis) dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi kita tetap harus produktif dengan segala kemampuan yanf kita punya.”

Sepenggal kalimat pembuka dari Pahlevi Indra Santoso atau yang dikenal dengan Levi The Fly ketika ditemui di studio miliknya. Sebagai pemilik Studio 18 Guntur, tentu ia juga merasakan betapa saat ini adalah masa sulit dalam industri rekaman. Kemudahan dalam merekam bahkan “memasarkan” sebuah lagu bisa dilakukan siapa saja saat ini dengan teknologi yang terus berkembang walau dengan alat seadanya. Dalam sesi wawancara, pria yang sekarang lebih senang disebut sebagai Seniman Audio Visual ini menuturkan bagaimana cara menghadapi persoalan ini beserta kiat-kiat agar tetap survive, dan beberapa tips untuk membuat ruang studio yang baik.

 

HARUS TETAP PRODUKTIF

Sebagai seorang musisi, pemain bass sekaligus produser beberapa grup band di Indonesia ini tentu menyadari bahwa perkembangan industri musik saat ini tidak seantusias beberapa tahun ke belakang. Di satu sisi secara jumlah, banyak musisi dan penyanyi yang lahir serta berkembang dengan cepat. Namun, disisi pendapatan untuk musik yang dihasilkan malah semakin menurun (baca penjualan album atau single album). Proses rekaman, mixing, sampai mastering yang dulu hanya bisa dilakukan oleh studio-studio besar, kini bisa dilakukan di studio rumahan. Semua karena teknologi. “Betul jika proses pembuatan sebuah rekaman lagu saat ini bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja, tapi kita juga harus memperhatikan kualitas hasil rekaman itu sendiri. Apakah sesuai standar atau tidak. Walau tidak menutup kemungkinan, banyak pula penyanyi atau grup band yang sukses menjual album lagunya tetapi justru proses rekamannya dibuat dari studio rumahan dengan alat yang seadanya,” jelas Levi ketika ditanya mengenai perkembangan studio rumahan dewasa ini. Tidak bisa dipungkiri, hal ini tentu saja berimbas pada studio miliknya yang menangani recording dan mixing. Ia menambahkan bahwa dulu banyak band-band lokal yang datang ke studionya untuk mengambil paket lengkap dalam pembuatan album atau single lagu (recording, mixing). Namun, sekarang mereka datang hanya mengambil beberapa proses, contohnya take drum. Selanjutnya jika sudah selesai, dikerjakan sendiri di studio rumahan band tersebut atau mereka datang dengan materi setengah jadi kemudian minta untuk di-mixing saja. “Apa pun keinginan mereka ketika datang ke studio kita untuk menerjemahkan musiknya, tetap harus diapreasiasi bahkan memberikan beberapa masukan terhadap musik mereka adalah salah satu survive dalam bentuk lain,” tutur pria lulusan angkatan pertama di Studio 21 ini saat ditanya bagaimana menyikapi situasi lesunya studio-studio besar dalam industri rekaman seperti sekarang ini. Lebih dari itu, ia menambahkan bahwa tidak menutup kemungkinan di antara band-band atau penyanyi yang dating itu mempunyai konsep yang berbeda dari musik-musik yang sudah ada dan layak untuk “dijual”. Di sini bisa timbul sebuah produktivitas lain. Sebagai contoh, bisa saja Anda justru memproduseri album mereka. Maka, sebagai pemilik studio tentu harus jeli dalam melihat talenta-talenta yang dating menyewa studio Anda. “Rasanya kalau bergantung pada menyewakan studio saja di saat ini juga sulit. Sembari memperhatikan bahkan berdiskusi dengan mereka, kita bisa melihat sebuah peluang lain yang berkesinambungan, itu bentuk produktivitas juga,” tambahnya.

 

SURVIVE

Lingkup kerja audio sebenarnya sangat luas. Musisi, produser, studio dan live sound engineer adalah beberapa contohnya. Jangan lupakan post production audio yang masuk dalam salah satu lingkup kerja audio juga. “Mempelajari lingkup kerja audio juga penting. Karena jika mengandalkan satu kebisaan saja dalam lingkup kerja tersebut maka investasi alat (pemilik studio) yang kita punya tidak akan maksimal terpakai. Namun, bila kita mau belajar dengan hal-hal yang tidak jauh-jauh dari audio, rasanya adalah sebuah keharusan. Salah satu cara terbaik agar bisa bertahan di era industri music seperti sekarang ini,” tutur Levi memberikan kiat sebagai pemilik studio. Levi juga melakukan hal di atas. Menerima pekerjaan di bidang post production audio pun dijalaninya, yaitu sebagai sound designer di beberapa proyek film dokumenter dan ­ film festival. “Sebagai seorang sound design, di dalamnya ada sound mixing, contoh biasanya sutradara meminta suara menjadi surround, dan itu tugas sound design untuk menerjemahkan apa kemauan dari sutradara,” tambahnya. Jadi bertahan disini adalah bagaimana bisa tetap bekerja dengan keahlian yang dimiliki.

 

“Baca selengkapnya di Majalah Audiopro edisi 07/2016”

Related Posts