• Rabu , 22 Agustus 2018

COKELAT EKSPLORASI SELAMA 20 TAHUN

coklat

 

Lebih dari 20 tahun berkarya, Cokelat sudah menjadi band legenda. Namun berbagai dinamika rupanya membuat masyarakat harus menunggu hingga delapan tahun hingga album terbaru, #LIKE! lahir. Sang vokalis baru, Jackline pun rasanya sudah seperti anggota lama karena sebenarnya sudah bergabung sejak lima tahun lalu. Tampil dengan beberapa Gear baru, untuk pertamakalinya Cokelat buka-bukaan tentang dapur rahasia mereka selama ini kepada pembaca Audiopro.

Apro : Sebenarnya Dari segi konsep sound apakah Cokelat sering berubah dari album ke album selanjutnya ?

Jackline : jangan sampai berubah sih ya, saya sudah cinta mati soalnya hahaha

Ronny : Sebenarnya enggak juga. Sejak album pertama kita rekaman kebetulan bertemu dengan Stephan Santoso selaku sound engineer. Gue tanya, ampli apa yang harus dipakai karena banyak ampli dan preamp yang tersedia di studio itu. Dia malah bilang, 99% sound ada di tangan. Jujur waktu dia bilang seperti itu saya sakit hati karena gue termasuk royal nge-GAS, tapi beberapa tahun kemudian saya akhirnya sadar dan mengerti bahwa apapun alat yang kita pakai, ujung-ujungnya gue pasti ke arah “sana”. Gue sendiri udah pernah pakai Trace Elliot, Line 6, Ashdown, tapi ya gue nguliknya pasti ke arah sana. Termasuk dulu gue sering meributkan masalah bahan fretboard rosewood atau maple, ternyata buat gue ga ada ngaruhnya.

Edwin : Di cokelat, semua orang harus punya ekspresi dan karakter sound sendiri-sendiri. Kami ga pernah menentukan batasannya seperti apa, tapi begitu kami gabungkan dalam sebuah komposisi kami demokratis dan saling terbuka terhadap semua masukan. Menurut gue pribadi itulah yang membuat gue jadi mengenal sound gue sendiri. Cokelat juga dari awal udah terbiasa memproduksi segalanya sendiri. Begitu bertemu engineer yang menangani Cokelat juga bisa tahu bahwa Cokelat itu soundnya seperti ini.

 

Apro : Mengapa Cokelat dari dulu hingga sekarang tidak pernah melibatkan produser ?

Edwin : Itu masalah kebiasaan aja sih, sebenernya Cokelat juga pengen banget pakai produser. Tapi dari mulai pertama kita ngeband sampai sekarang, dari labelnya kita sendiri tidak dikondisikan seperti itu. Sebenarnya kalau gue lihat juga baru-baru ini saja band memakai produser.

Jackline : Mungkin album berikutnya kali ya..

Edwin : Iya, kalau buat gue sendiri doyan banget menjadi produser untuk band gue sendiri. Yang diacungi jempol oleh musisi- musisi luar negeri terhadap bandband Indonesia adalah kemampuan kita memproduksi sendiri dengan kualitas akhir seperti ini. Di luar negeri, mereka terbiasa dari awal ada produsernya. Produser di Indonesia hanya terlibat di aspek jualannya, tapi sekarang sih sudah banyak yang turun hingga ke aspek teknis.

 

Apro : Bagaimana dinamika kelompok yang terjadi di Cokelat, seperti misalnya problem solving saat terjadi kon­flik?

Jackline : Selama ini sih saya merasa tidak ada susah-susahnya, tidak ada ribut apa-apa.

Edwin : Secara teknis begini, dari awal Jackline masuk kami ngepush dia untuk mengarang lagu sendiri. Itu terjadi dan banyak dinamika yang tentu tidak terhindarkan. Dan menurut kami itu harus terjadi. Kami tidak mau di Cokelat pasif saja, terima jadi saja karena budaya di Cokelat seperti itu. Khusus untuk Jackline perkembangannya selama lima tahun sangat cepat, song list sudah kami serahkan pada Jackline.

Jackline : Bukannya ngebaik-baikkin mereka, tapi aku yang dari awal masih minim pengetahuan tentang musik di industri ini, ilmunya jadi banyak banget dan aku menerima itu dengan senang hati. Mungkin itu yang membuat kami ga punya masalah apa-apa.

 

“Baca selengkapnya di Majalah Audiopro edisi 07/2016”

Related Posts