• Jumat , 19 Oktober 2018

ARIF SUPARLAN – HARUS HAFAL SOAL FREKUENSI

Tidak terpikirkan sebelumnya bahkan tidak pernah ia bercita-cita menjadi seorang sound engineer. Adapun yang ia lakukan hanyalah mengikuti kehidupan sesuai garisnya.

arif-suparlan-harus-hafal-soal-frekuensi M enjadi seorang sound engineer seperti sekarang ini pun hanya berawal dari kesukaannya
terhadap musik terutama musik Metal. Alat musik yang dikuasainya adalah gitar. Dari sering mengulik banyak lagu dengan menggunakan gitarnya, akhirnya ia terbiasa mendengar nada-nada yang dihasilkan dengan baik. Dengan baik dalam artian, dirinya paham benar setiap denting dari senar mengeluarkan frekuensi suara di angka berapa. Menurutnya, ini adalah modal penting untuk menjadi seorang sound engineer yang baik, selain paham tentang frekuensi ternyata menguasai dan bermain secara benar dengan alat musik yang dikuasai juga menjadi hal yang fundamental.

Pengalaman

Memulai karirnya di tahun 1999 hingga sekarang menjadi seorang sound engineer, tentu saja segudang pengalaman  sudah didapat. Dirinya mengakui walau pengalaman sudah banyak, dia tetap ingin belajar. Terutama dalam bahasa- bahasa teknis atau istilah-istilah yang kadang sebenarnya dimengerti  apa yang dimaksud namun kadang terkendala  dengan bahasa teknis yang ia ketahui. Maka dari itu, ia menyarankan jika ingin menjadi seorang sound engineer  yang baik, menimba ilmu pada sekolah khusus sound engineer tetaplah penting. Namun, segala teori dan ilmu yang  diperoleh dari sekolah jika tidak diaplikasikan dalam praktik lapangan, rasanya juga akan mubazir. Seperti yang  dituturkannya, “Aku ini enggak sekolah tentang audio, apalagi sekolah sound engineer. Jujur saja beberapa istilah  atau bahasa teknis dalam audio yang disampaikan kadang membuat aku berpikir keras  dalam mengartikannya, tetapi sebenarnya aku tahu apa yang mereka maksud. Itu bisa jadi sedikit kendala juga sih,”  jelas pria yang saat ini menjadi sound engineer untuk Bubugiri dan Kunto Aji.

Hafal Frekuensi

Frekuensi adalah basis dalam mixing, di mana penggunaan frekuensi untuk high pass  lter atau low pass  lter, serta frekuensi berapa untuk cut bass, treble, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan frekuensi mutlak, haruslah  diketahui oleh seorang sound engineer. Pria yang akrab disapa Arif ini menuturkan bahwa menghafal sebuah  frekuensi sangatlah penting. Namun, terkadang ia juga merasa heran apabila masih ada sound engineer yang ketika  bertugas justru tidak berdasarkan hitungan pasti terutama dalam hal frekuensi. Menurutnya, selain semua suara  pasti ada frekuensinya, ternyata hitungan pasti dari frekuensi itu hanyalah tiga nada, yaitu pada nada D ( pada 600  Hz), nada G (800 Hz) dan nada B (1000 Hz). Dengan berpegang pada metode ini, ternyata tidaklah terlalu sulit. Jika  nda sudah mengetahui hitungan tersebut maka ketika terdapat nada tinggi maupun rendah, kita tinggal mengikuti angka-angka tersebut sebagai patokan tanpa mengubah nada yang sudah semestinya. Contoh, ketika  frekuensi berada di nada G (800hz) namun suara yang diterima ternyata tinggi, Anda tinggal mengalikan saja dengan nilai dua sehingga nada tetap akan di G, tetapi berada di 1600 Hz. Adapun jika ternyata suara rendah maka  Anda tinggal membagi angka tersebut dengan nilai dua. Ini adalah kunci utama dalam penghitungan frekuensi yang  selalu dipegangnya selama ia bertugas menjadi seorang sound engineer.

Crossover dan mixing pun erat kaitannya dengan frekuensi. Tentu Anda harus paham benar dalam hal perhitungan  frekuensi pada crossover ini. Crossover biasanya berhubungan dengan suhu. Adapun penghitungan awal saat cek  sound mungkin (katakan) berkisar pada suhu 30 Celcius. Namun, apakah suhu tersebut akan tetap di angka yang  sama saat pertunjukan berlangsung? Belum tentu. Bisa saja suhu akan turun atau bahkan naik. Hal ini juga akan  mempengaruhi suara yang dihasilkan. Jika Anda hafal benar dengan frekuensi seperti hitungan di atas dan dibantu dengan software tertentu maka pergeseran (adjustment) suara tidaklah terlalu lama dilakukan saat pertunjukan siap berlangsung. Arif menambahkan, dasar-dasar yang perlu diketahui sound man yang baik perlu memahami gain  structure (headroom) unutk keperluan live mixing.

Cek Riders

Menjadi seorang sound engineer yang terpenting adalah mengikis egois dalam bermusik. “Aku menguasai alat gitar.  Kalau aku egois saat bertugas jadi sound engineer, pasti aku inginnya suara gitar paling aku kedepankan,” tuturnya sambil tertawa. Dengan menekan rasa egois tentu bisa lebih mengontrol suara-suara instrumen yang ada sesuai porsinya. Untuk menghasilkan suara dari instrumen yang ada juga diperlukan berbagai alat yang baik, contohnya speaker dan mic. Mempelajari berbagai karakter suara yang dihasilkan dari alat yang bakal digunakan, ternyata bisa memudahkan seorang sound engineer dalam membuat daftar permintaan alat.

“Aku selalu mengecek daftar permintaan alat (riders). Sebisa mungkin harus sesuai karena dalam daftar permintaan  alat tersebut, alat yang akan digunakan adalah sesuai dengan yang dibutuhkan,” jelas pria yang sudah menangani berbagai band besar Indonesia ini. Dalam pemilihan alat, Arif lebih memprioritaskan mic dan speaker. Menurutnya,
untuk kedua alat ini ia agak lebih “memaksa” harus menggunakan mikrofon dan speaker tertentu. Karena ia lebih mengutamakan alat yang bisa merespon semua frekuensi. “Biasanya alat yang baik itu bisa merespon segala frekuensi dan sesuai dengan buku manualnya.”

Source Harus Baik

Ada yang beranggapan bahwa tugas seorang sound engineer adalah membuat bagus sebuah suara dengan keahliannya dalam equalising, panning, balancing, serta kelihaiannya dalam mixing. Namun, anggapan tersebut ditepis oleh Arif. “Pada sebuah pertunjukan grup band, sebelum suara itu dikeluarkan dalam system PA, hal pertama
yang aku kejar adalah suara dari source,” jelasnya.

Karena suara yang baik itu dari source yang baik. Sound engineer hanya bertugas sebagai translater-suara di speaker, di mana sumber suara tetaplah berasal dari player. Selama source player-nya baik maka tugas engineer akan jadi baik, tetapi kalau sourcenya buruk tidak lantas jadi tugas engineer untuk menjadikannya bagus. Tidak seperti itu. Sound engineer hanya memberi efek pada suara sesuai porsinya. Lelaki yang mengidolakan Denny Lisapalle sebagai gurunya, mengharapkan setiap grup band yang ingin tampil agar mempelajari cara bermain, penguasaan alat, dan tunning yang lebih dalam lagi bahkan ia menegaskan ketika cek sound pun bermainlah dengan mood layaknya pertunjukan sudah dimulai.

Related Posts